KOBAKMA, Nokenlive.com – Di langit yang membentang cerah di atas kota Wamena, rotor helikopter Helivida mulai berputar pelan. Tepat pukul 11.00 WIT, burung besi itu terbang membelah langit menuju Distrik Kelila, kampung Dogobak, Kabupaten Mamberamo Tengah membawa Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Dr. Ones Pahabol, bersama sang istri tercinta. Dua staf dan satu jurnalis turut mendampingi perjalanan mulia ini, yang bukan sekadar kunjungan kerja, tapi sebuah panggilan jiwa untuk melayani.

Sebelum lepas landas, sang pilot memimpin doa, menyerahkan seluruh perjalanan kepada penyertaan Tuhan. Doa yang sederhana namun sakral itu menegaskan: perjalanan ini bukan tentang kekuasaan, tapi tentang pengabdian. Heli melaju di bawah langit yang terang – seakan Tuhan sendiri menyingkapkan tirai awan-Nya demi membuka jalan bagi pemimpin yang datang membawa kabar baik.
Dari udara, Dogobak terlihat kecil, tapi semarak. Di tengah hening hutan dan pegunungan, tampak puluhan warga telah berkumpul di lapangan kecil tempat helikopter akan mendarat. Mereka menari, menyanyi, memuji. Anak-anak, mama-mama, kaum pria – semua dalam sukacita yang tak bisa disembunyikan. Lagu dan langkah kaki mereka seolah berbisik, “Ia datang… pemimpin kami datang…”

Begitu helikopter mendarat dan mesin mati, pintu terbuka. Wakil Gubernur Ones Pahabol dan Ibu keluar, tersenyum, melambaikan tangan. Sambutan pertama datang dari Ibu Bupati Mamberamo Tengah yang juga Ketua TP PKK: seutas noken dikalungkan di leher dan mahkota noken dikenakan di kepala mereka. Simbol kasih, penghormatan, dan penerimaan.
Dari lapangan, rombongan berjalan menuju halaman Gereja GIDI tempat kegiatan Ret-Ret dan Seminar Kaum Wanita Wilayah Bogo, Klasis Kambome akan dimulai. Di sepanjang jalan, gema lagu berbahasa daerah menyambut dan mengiringi langkah mereka hingga di lokasi acara.

Masuk gapura utama gereja, beberapa Bapak – bapak berdiri berjejer sambil menyapa Wakil Gubernur Ones Pahabol dan Istri yang di dampingi langsung Oleh Ketua TP PKK yang adalah Istri dari Bupati Mamberamo Tengah.
Mereka adalah para hamba Tuhan yang sedang melakukan Tradisi Lendawih yaitu menyanyi sambil menangis. Tapi ini bukan nyanyian biasa ini adalah nyanyian penuh rasa syukur dan haru atas kedatangan orang yang jauh atau orang penting yang mereka nantikan.
Liriknya sederhana, tapi penuh makna. Mereka menyanyikan sambil menangis, menyeka air mata mereka yang mengalir dengan lembut.

Wakil Gubernur dan Ibu pun tak kuasa menahan haru. Di antara nyanyian, isak tangis, dan senyum kasih, mereka berdiri, diam sejenak, lalu ikut larut dalam suasana. Air mata pun jatuh dari wajah keduanya bukan karena kesedihan, tapi karena cinta yang begitu tulus. Mereka tahu, mereka datang bukan sebagai pejabat, tapi sebagai pelayan. Bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani.

Setelah momen Lendawih, ibadah pembukaan dimulai di tenda utama. Ratusan warga sebagian besar kaum perempuan mengikuti ibadah dengan khidmat. Cuaca yang awalnya panas berubah menjadi hujan ringan saat ibadah dimulai. Tapi tak lama kemudian, langit kembali cerah dan angin sejuk menyapa. Warga menyebutnya sebagai hujan berkat pertanda bahwa Tuhan hadir melalui pemimpin yang mereka kasihi.
Dalam sambutannya, Dr. Ones Pahabol mengatakan bahwa pada undangan pertama, ia belum sempat hadir. Tapi kali ini, bersama istri, ia memutuskan harus datang. “Kami hadir di sini bukan karena kami hebat, tapi karena Allah menuntun kami,” katanya penuh kesungguhan.

Ia mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan warga dalam Pilkada lalu, dan menegaskan bahwa dirinya bersama Gubernur John Tabo adalah kader Gereja Injili di Indonesia (GIDI). mereka berdua telah dibentuk dan dibesarkan dalam rumah iman yang sama. “Kami akan terus mendukung pekerjaan penginjilan sampai ke ujung bumi,” tegasnya, disambut tepuk tangan hangat jemaat.
Sebagai bentuk dukungan, Dr. Ones Pahabol dan Istri juga memberikan bantuan dana dari pribadi mereka untuk membantu kegiatan ret-ret dan seminar yang akan berlangsung selama tiga hari ke depan.

Sekitar pukul 14.26 WIT, helikopter kembali bersiap tinggal landas. Diiringi lambaian tangan perpisahan, Wakil Gubernur dan Ibu naik kembali ke helikopter pulang ke Wamena, meninggalkan jejak kasih yang tak akan pernah dilupakan di hati warga Kelila kampung Dogobak.
Hari itu bukan hanya kunjungan biasa. Bagi warga Dogobak, hari itu adalah pengingat bahwa seorang pemimpin bisa hadir sebagai pribadi yang datang membawa damai, pengharapan, dan kasih Kristus yang nyata. ( Redaksi NL )





Apa komentar anda ?