JAYAPURA, NOKENLIVE.com- Kisah seorang ayah paru bayah bernama Yorgen Ayomi yang hidup bersama ketujuh anak dan dua cucunya di sebuah bangunan tak layak huni di kawasan Kali Hanyaan, Kelurahan Entrop, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua.
Yorgen bersama 7 orang anak dan 2 orang cucu mempunyai gubuk yang berada di pinggiran Kali Hanyaan, namun karena banjir sejak 2019 membuat rumah tersebut rusak dan tak bisa dihuni lagi. Alhasil, Yorgen memutuskan untuk tinggal di sebuah gedung kosong yang berada di daerah tersebut.
Sebagai seorang ayah dan kakek (opa), Yorgen harus berjuang membesarkan anak-anak dan cucu-cucunya sendirian, setelah ditinggalkan pergi oleh sang istri. 7 orang anak dan 2 orang cucu ini hidup dalam keadaan yang memprihatinkan bersama sang ayah.
Pria berusia 60 tahun ini adalah seorang pekerja perabotan yang mengandalkan keahliannya untuk menyambung kehidupan sehari-hari. Hidupnya bersama anak-anak dan cucu-cucu terasa berat sejak ibu (istrinya) meninggalkan rumah.
“Semua ini berlangsung sejak 2019 hingga 2020. Selama 5 tahun ini anak-anak dan cucu-cucu harus bertahan hidup tanpa kasih sayang ibu, tanpa penghasilan tetap yang memadai dan dalam kondisi tempat tinggal yang sangat tidak layak,” jelasnya dalam keterangan yang diterima Nokenlive.com, Rabu (23/7/2025).
Tinggal di Bangunan Bekas Tanpa Seizin Pemilknya
Menurut pria kelahiran Ansus, Serui 7 Juli 1965 ini, sejak 2019, banjir menghancurkan rumah yang ditinggalinya selama ini bersama anak-anak, saat ia bersama anak-anak saat itu sedang mengais botol plastik di tempat sampah, menjaga parkir di toko-toko seputaran Entrop, demi menyambung hidup sehari-hari.
Saat hendak kembali, Yorgen bersama anak-anaknya menemukan bahwa rumah yang ditepati selama ini sudah terendam air. Dimana semua seisi rumah sudah terendam air, yang ada saat itu hanyalah baju di badan.
Baca juga: Kisah Sukses Putra Asal Biak dari Tukang Ojek, Buruh Bangunan dan Penjual Koran
Ayah tujuh anak ini kemudian memutuskan untuk membawa anak-anak dan cucu-cucu untuk sementara menumpang disebuah bangunan kosong di belakang Kali Hanyaan. Bangunan bekas ini milik Toko Matahari.
“Bangunan bekas ini kami tempati selama 5 tahun ini tanpa seizin pemiliknya, karena hanya ini satu-satunya pilihan yang tersedia,” ungkap Yorgen.
“Sementara kami tinggal di bangunan tua yang tidak terawat. Karena rumah kami yang sebelumnya hancur karena banjir,” sambung dia.
Yorgen adalah seorang pekerja perabotan yang mengandalkan keahliannya untuk menghidupi 7 anak dan 2 cucunya. Namun, beban hidup semakin berat sejak ibu mereka meninggalkan rumah.
Kadang Menahan Lapar, Makan Jika Ada
Jorgen mengatakan, kehidupannya bersama anak-anak dan cucu-cucu berubah, ketika sang istri pergi dan memutuskan untuk tidak kembali. Meski masih bekerja di salah satu kantor yang ada di kota Jayapura.
Baca juga: Kisah Suster Hetty, Insentif Covid-19 Yang Tertunda
Sang istri (ibu) malah menolak untuk menemui anak-anaknya ketika mereka datang meminta bantuan, bahkan saat mereka sekedar meminta uang untuk kebutuhan sekolah atau makan sehari-hari.
“Anak-anak ini hanya bisa makan jika ada makanan. Jika tidak, mereka tidak makan sama sekali. Tak jarang, mereka harus menahan lapar hingga keesokan harinya,” katanya.
Anak-anak sering pergi menemui ibunya di kantor, namun selalu ditolak. Kini Yorgen bersama kelima anak dan dua cucunya hanya bertahan hidup dengan Dungan sau sama lain dan perjuangannya sebagai seorang ayah yang terus bekerja, meski penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari dalam keluarganya.
Selain itu, kondisi tempat tinggal mereka sangat jauh dari kata layak, sebab bangunan yang sudah ditepati selama 5 tahun ini tidak memiliki dinding permanen, disekelilingnya dipenuhi sampah dan tidak memiliki fasilitas dasar, seperti jamban (WC) dan aliran listrik.
Baca juga: Kisah Anak Tukang Mie Ayam yang Lulus Bintara Polri Polda Papua
Sementara, untuk tidur pun Jorgen bersama 7 anak dan 2 cucunya hanya beralaskan kasur lusuh. Saat malam tiba, mereka tidur tanpa lampu penerangan. Tidur dalam kondisi kegelapan.
“Selama ini untuk menghidupi kehidupan sehari-hari saya bersama anak-anak dan cucu-cucu hanya mengandalkan hasil penjualan barang rongsokan yang dikumpulkan sebulan sekali. Selain itu, anak dan menantu juga bekerja serabutan sebagai penjaga parkir,” ujarnya.
Harapannya
Yorgen berharap, anak-anaknya tetap kuat dan kelak bisa tumbuh menjadi orang yang baik dan berguna bagi sesama kelaknya.
“Saya berharap mereka (anak-anak dan cucu-cucu) tidak mengikuti jejak buruh, tetapi tetap percaya pada nilai kehidupan yang jujur, tangguh dan penuh kasih,” ucapnya.
Baca juga: Kisah Natalia, Gadis Asal Nafri Menjadi Polwan di Yogyakarta
Selain itu, Yorgen juga berharap, Pemerintah Kota Jayapura dan lembaga sosial bisa memberikan dukungan nyata, baik berupa tempat tinggal yang layak, bantuan pendidikan, maupun perawatan kesehatan untuk anak-anaknya.
“Kami tidak minta banyak, asalkan anak-anak saya bisa sekolah, bisa makan dan bisa sehat. Itu saja dan bisa tinggal di rumah yang lebih layak,” tutupnya. (Redaksi NL/Fredik)





Apa komentar anda ?