JAYAPURA, Nokenlive.com – Polda Papua bersama Pemerintah Kabupaten Jayawijaya menggelar rapat mitigasi darurat menyusul meluasnya konflik horizontal antara kelompok masyarakat suku Pirime (Lanny) dan suku Kurima (Woma) di Distrik Woma, Kabupaten Jayawijaya.
Rapat yang berlangsung di Ruang Kerja Kapolda Papua, Mapolda Papua Koya Koso, dipimpin langsung Kapolda Papua Irjen Pol. Patrige R. Renwarin dan dihadiri Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere, beserta jajaran pejabat utama Polda Papua dan unsur terkait lainnya.
Pertemuan tersebut membahas secara menyeluruh akar konflik, kondisi keamanan terkini, dampak sosial di tengah masyarakat, hingga langkah strategis untuk mencegah bentrokan meluas ke wilayah lain di Papua Pegunungan.
Kapolda Papua Irjen Pol. Patrige Renwarin menegaskan bahwa penanganan konflik tidak bisa hanya mengedepankan pendekatan keamanan, tetapi juga harus melibatkan unsur adat, tokoh agama, dan pemerintah daerah agar penyelesaian berjalan damai serta tidak memicu korban jiwa tambahan.
“Polda Papua bersama pemerintah daerah dan seluruh unsur terkait terus melakukan langkah mitigasi agar situasi tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Pendekatan dialog, adat, dan pelibatan tokoh agama menjadi prioritas dalam penyelesaian persoalan ini,” tegas Kapolda.
Dalam rapat dijelaskan bahwa konflik dipicu pertikaian lama yang kembali memanas akibat persoalan pembayaran denda adat pasca kecelakaan lalu lintas tahun 2024 yang menewaskan seorang anggota DPR asal Lanny Jaya. Proses mediasi yang mengalami kebuntuan memicu aksi saling serang antar kelompok warga.
Situasi semakin tragis setelah jembatan gantung di Kali UE roboh saat dilintasi massa. Insiden tersebut menyebabkan puluhan warga hanyut dan dilaporkan hilang. Hingga kini aparat gabungan bersama masyarakat masih melakukan pencarian korban di lokasi kejadian.
Dir Pamobvit Polda Papua yang juga menjabat Plh. Karo Ops Polda Papua, Kombes Pol. Dede Alamsyah, S.I.K., mengatakan fokus aparat saat ini adalah memastikan proses pencarian korban berjalan aman sekaligus mencegah bentrokan susulan di tengah konsentrasi massa yang masih cukup besar di Woma dan Kota Wamena.
“Pengamanan terus diperkuat dengan penempatan personel di titik-titik rawan serta koordinasi intensif bersama tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Jayawijaya Ronny Elopere mengaku khawatir potensi konflik susulan dapat terjadi setelah proses pencarian korban selesai. Menurutnya, massa dari kedua kelompok masih berkumpul di sejumlah titik sehingga diperlukan pengamanan tambahan untuk menjaga stabilitas keamanan daerah.
Dalam rapat tersebut, disepakati sejumlah langkah strategis, di antaranya penambahan personel keamanan, pelibatan tokoh gereja dan tokoh adat dalam mediasi damai, dukungan pemerintah daerah untuk penyelesaian denda adat, hingga penguatan koordinasi lintas kabupaten guna mencegah mobilisasi massa secara besar-besaran.
Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol. Cahyo Sukarnito, S.I.K., memastikan situasi keamanan di Jayawijaya masih terus dipantau secara intensif oleh aparat gabungan.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi isu atau informasi yang belum tentu benar. Percayakan penanganan situasi kepada aparat dan pemerintah daerah agar penyelesaian dapat berjalan damai dan bermartabat,” katanya.
Polda Papua menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas keamanan di wilayah Papua Pegunungan melalui pendekatan humanis, dialogis, dan berbasis kearifan lokal.
(Melviandres Pamanggori/Redaksi)





Apa komentar anda ?