WAMENA, NOKENLIVE. Com — Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Dr. Ones Pahabol, angkat suara terkait insiden kericuhan yang terjadi di Kabupaten Yalimo. Kerusuhan yang diduga dipicu oleh perlakuan rasis yang dilakukan seorang siswa non asli Papua (Pendatang) kepada Siswa Asli Papua dengan kata “Monyet” yang kemudian memicu aksi pembakaran, konflik fisik, dan gelombang pengungsian ke Kabupaten Jayawijaya.
Ones Pahabol menyebut bahwa, peristiwa ini sebagai Luka batin yang dalam bagi orang Papua, sekaligus sebagai peringatan agar semua pihak lebih berhati-hati dalam perkataan dan tindakan. Ia juga menegaskan bahwa tindakan rasisme adalah pelanggaran terhadap nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
“Kata – kata Rasis seperti monyet bukan hanya melukai hati orang Papua tetapi juga menentang karya Tuhan yang menciptakan manusia dengan rupa dan gambarnya serta mempunyai martabat yang sama. Ini tidak boleh terjadi lagi, kapanpun dan dimanapun. ” Tegas OP di Wamena, Rabu 18/08/2025.
Dengan suara penuh keprihatinan, Wagub OP juga mengingatkan dan menghimbau kepada masyarakat Non Asli Papua yang hidup dan berkarya di Tanah Papua Khusunya di Papua Pegunungan untuk dapat menjaga lisan dan tindakan yang dapat menyakiti hati orang asli Papua.
” Kepada saudara- saudara kami Non Asli Papua (Pendatang) yang hidup do atas Tanah Papua dan Khususnya di Papua Pegunungan untuk jangan lisan dan tindakan kalian, jangan sampai menyakiti hati masyarakat asli Papua, apalagi dengan kata-kata rasis.
Ia juga menekankan bahwa penghinaan terhadap fisik dan identitas orang asli Papua bukan hanya menyakitkan, tetapi juga merusak keharmonisan sosial dan mencederai ciptaan Tuhan.
“Orang Papua adalah gambar Tuhan. Kulit hitam, rambut keriting bukan alasan untuk direndahkan. Kata rasis ( Monyet ) ini bukan pertama kali yang kita dengar tapi sudah perna terjadi juga hingga memicu kemarahan rakyat papua dan harus menjadi yang terakhir, karena satu ucapan yang salah bisa memicu amarah yang berujung pada kerugian besar bahkan nyawa manusia. Karena kehilangan rumah dan kehilangan nyawa itu harga yang terlalu Mahal,”lanjut Ones.
Dukungan Pemerintah dan Seruan Perdamaian
Dr. Ones Pahabol memastikan bahwa Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan mendukung penuh aparat keamanan dan Pemerintah Kabupaten Yalimo dalam upaya menormalkan situasi. Ia juga menyatakan akan turun langsung ke Yalimo pada Jumat, 19 September 2025 untuk memantau kondisi dan memberikan dukungan moral.
Ia mengajak seluruh tokoh masyarakat, mahasiswa, dan warga Yalimo untuk berperan aktif menjaga kedamaian dan keamanan di wilayah Papua Pegunungan.
“Kita berbeda warna kulit dan rambut tapi kita satu dalam martabat sebagai manusia ciptaan Tuhan. Jangan biarkan kata-kata merusak persaudaraan. Mari saling menghargai, saling menjaga, dan saling menguatkan. Papua adalah rumah kita bersama,” tutupnya.
Situasi di Yalimo masih dalam pemulihan, sementara solidaritas dan kesadaran menjadi kunci utama untuk membangun kembali kepercayaan dan kedamaian di Yalimo Tanah Papua. ( Redaksi NL)





Apa komentar anda ?