Jayapura,Nokenlive – Di tengah padatnya jadwal sebagai Calon Gubernur Papua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano (BTM) kembali menunjukkan sisi kemanusiaannya yang tulus. Tanpa iring-iringan mewah, tanpa panggung dan sorotan media, BTM secara pribadi mengantar bantuan sembako ke kediaman Bona Murib, seorang warga sederhana di kawasan Dok 8, Kota Jayapura.
Langkah kaki BTM yang menyusuri gang kecil tanpa pengawalan ketat, sontak mengejutkan Bona Murib. Sosok tokoh masyarakat asal Papua Pegunungan itu, yang saat itu tengah duduk bersahaja hanya mengenakan celana pendek, langsung berdiri, berlari kecil, dan memeluk BTM dengan air mata yang tak terbendung.
“Waa waa Pak Gubernur… waa waa,” teriak Bona dengan suara bergetar, menandai sebuah momen haru yang menyentuh hati siapa pun yang menyaksikannya.

BTM, yang selama ini dikenal sebagai pemimpin sederhana dan merakyat, langsung membalas pelukan itu dengan kehangatan. Mereka lalu duduk di bangku kayu sederhana di samping rumah, berbincang dalam suasana penuh kekeluargaan.
“Mohon maaf kalau saya datang tidak memberi tahu sebelumnya, Pak Bona. Saya dan mama memang sudah niat dari hati untuk datang dan menyerahkan sedikit sembako ini,” tutur BTM dengan nada pelan namun penuh ketulusan.
Tangis haru pun kembali pecah. Bona Murib dan keluarganya tak menyangka bahwa seorang calon pemimpin Papua rela menembus jalan berbukit dan belum beraspal, demi menjangkau mereka yang sering kali merasa terpinggirkan.
“Kami tidak punya apa-apa untuk balas kebaikan ini, Bapa BTM. Tapi doa kami selalu menyertai bapa, supaya Tuhan buka jalan dan beri yang terbaik,” ucap Bona dengan suara bergetar.
Di tengah kompetisi politik yang keras, momen ini menjadi napas segar, sebuah pengingat bahwa kepemimpinan bukan soal kekuasaan, tetapi soal hati yang peduli dan mau hadir di tengah rakyat.
Saat BTM pamit dengan senyum dan pelukan hangat, Bona kembali menegaskan komitmennya:
“Sebagai pribadi, keluarga, dan orang Pegunungan, kami bersaksi dan berdiri bersama bapa. Doa dan dukungan kami tidak akan berhenti.”
Di tengah pelukan hangat dan linangan air mata, perjumpaan singkat itu mengukir kesan yang tak mudah dilupakan. Bukan karena sembako yang dibawa, tapi karena kehadiran seorang calon pemimpin yang memilih turun, melihat langsung, dan merasakan denyut kehidupan rakyatnya dari dekat.

BTM tidak hanya hadir sebagai calon Gubernur, tetapi sebagai seorang anak negeri yang tahu betul bahwa harapan tak lahir dari panggung-panggung kampanye, tetapi dari sentuhan kemanusiaan, kepekaan hati, dan langkah kaki yang mau menempuh jalan terjal demi menjangkau yang kecil, yang jauh, dan yang sering dilupakan.
Hari itu, di rumah kecil di atas tanah berbukit di Dok 8, politik berubah menjadi pelukan. Kekuasaan menjelma menjadi kasih. Dan Papua, sejenak, menyaksikan wujud nyata dari mimpi tentang pemimpin yang benar-benar datang bukan untuk dilayani, tapi melayani.
Penulis : Redaksi NL





Apa komentar anda ?