JAYAPURA, nokenlive.com – Ketua DPR Papua, Denny Bonay memastikan tidak terjadi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Provinsi Papua.
Kepastian itu diperoleh setelah DPR Papua menggelar pertemuan bersama manajemen Pertamina Patra Niaga Regional Papua-Maluku untuk membahas antrean panjang di sejumlah SPBU di Kota Jayapura. Kamis (30/7/2026)
Menurut Denny Bonay, berdasarkan pemaparan Pertamina, stok BBM di seluruh SPBU Kota Jayapura maupun sejumlah daerah lain seperti Biak dan Serui berada dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.
“Awalnya kami datang karena banyak informasi mengenai kelangkaan BBM. Namun setelah mendapat penjelasan dari Pertamina, ternyata stok BBM di Kota Jayapura dan beberapa daerah lainnya dalam kondisi aman. Yang terjadi saat ini adalah antrean panjang, bukan karena pasokan berkurang,” kata Denny.

Ia mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian secara berlebihan maupun panik karena Pertamina telah menjamin ketersediaan BBM di Tanah Papua.
“Kami mengajak masyarakat tidak perlu khawatir atau panik. Pertamina sudah memastikan stok BBM aman sehingga tidak perlu lagi terjadi antrean akibat kepanikan masyarakat,” ujarnya.
Dalam rapat tersebut, DPR Papua juga mengusulkan sejumlah langkah untuk mengurangi antrean di SPBU, di antaranya penambahan petugas pelayanan, peningkatan pengawasan, hingga evaluasi jam operasional SPBU. Menurut Denny, usulan tersebut masih akan dikaji bersama Pertamina dan pengelola SPBU karena menyangkut aspek operasional dan ketenagakerjaan.
Sementara itu, Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Papua-Maluku, Kota Jayapurao, mengapresiasi kunjungan Ketua DPR Papua beserta Komisi IV DPR Papua yang dinilai sebagai bentuk sinergi dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Awan menegaskan bahwa stok BBM di seluruh terminal BBM maupun SPBU di Papua dalam kondisi aman dan tidak mengalami kelangkaan.
“Seluruh stok di depot maupun SPBU tersedia dengan baik. Kami juga telah didukung sistem digitalisasi sehingga distribusi dan ketersediaan BBM terus dipantau secara real time,” jelasnya.
Menurutnya, antrean panjang yang belakangan terjadi dipicu meningkatnya konsumsi BBM bersubsidi akibat kenaikan harga BBM non-subsidi yang dipengaruhi situasi geopolitik global.
“Dari data kami terjadi peningkatan konsumsi BBM subsidi sekitar 13 hingga 15 persen. Lonjakan inilah yang menyebabkan antrean menjadi lebih panjang dibanding biasanya,” katanya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pertamina akan mempercepat penambahan titik layanan penyaluran solar. SPBU HBTKM ditargetkan mulai menyalurkan solar paling lambat pekan depan, sementara SPBU Doyo ditargetkan beroperasi pada Oktober mendatang.

Penambahan titik distribusi ini diharapkan dapat melayani kendaraan angkutan menuju Sarmi, Keerom, hingga jalur Trans Papua sehingga beban SPBU di dalam Kota Jayapura dapat berkurang.
Selain itu, Pertamina juga akan mengevaluasi kemungkinan penambahan jam operasional SPBU dengan mempertimbangkan kesiapan tenaga kerja dan aspek operasional lainnya.
Menanggapi kasus penimbunan BBM yang sebelumnya diungkap aparat kepolisian, Awan menegaskan Pertamina terus memperkuat pengawasan bersama Pemerintah Provinsi Papua, kepolisian, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta Dinas Perhubungan.
(Manase – Redaksi DA)





Apa komentar anda ?