SENTANI, Nokenlive.com – Masyarakat Adat Asei di Kampung Asei, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua mendorong pemerintah setempat untuk memanfaatkan Festival Danau Sentani (FDS) tidak lagi sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi bertransformasi menjadi destinasi budaya yang hidup dan dapat dikunjungi sepanjang tahun.
Dorongan tersebut disampaikan Anak Adat Kampung Asei, dari Suku Ongge, Herlan Ongge, pada Senin (31/8/2026), di Sentani, Ia menilai pelaksanaan FDS selama ini perlu dievaluasi agar anggaran besar yang digunakan dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
Menurut Herlan, kawasan FDS di Khalkote kerap kembali sepi dan kurang terawat setelah seluruh rangkaian festival berakhir. Kawasan tersebut kemudian kembali dibersihkan menjelang pelaksanaan FDS pada tahun berikutnya.
“Pola seperti ini perlu dievaluasi secara serius. FDS seharusnya tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan, tetapi dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya permanen,” kata Herlan.
Ia menilai kawasan Khalkote memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat pertunjukan budaya, galeri kerajinan, kuliner tradisional, pendidikan budaya, hingga pemasaran produk masyarakat adat Sentani.
Pengelolaan secara konsisten, kata Herlan, juga berpotensi membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi masyarakat lokal, meningkatkan kunjungan wisatawan, sekaligus menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Jayapura.
Ia juga mengingatkan pengembangan pariwisata budaya tidak boleh menghilangkan nilai, makna, maupun kesakralan tradisi masyarakat adat Sentani hanya demi kepentingan hiburan dan menarik perhatian wisatawan.
Herlan juga meminta budaya Sentani menjadi identitas utama Festival Danau Sentani. Pertunjukan dari luar daerah maupun hiburan modern dinilai tidak boleh mendominasi hingga mengaburkan karakter budaya yang menjadi ruh festival.

“Karena festival ini membawa nama Danau Sentani, maka tradisi dan kebudayaan masyarakat Sentani harus menjadi jiwa serta sajian utamanya,” ujarnya.
Herlan mendorong Pemkab Jayapura menyusun konsep pengembangan jangka panjang dengan melibatkan masyarakat adat, ondoafi, seniman, budayawan, pelaku usaha lokal, generasi muda, dan pemilik hak ulayat.
Ia mengusulkan kawasan Khalkote dilengkapi galeri budaya, rumah adat, panggung pertunjukan rutin, pusat informasi wisata, pasar kerajinan, pusat kuliner tradisional, serta ruang pembelajaran budaya Sentani.
Menurutnya, FDS harus menjadi rumah bagi masyarakat adat Sentani dalam merawat warisan leluhur sekaligus menjadi pintu bagi wisatawan untuk mengenal kekayaan budaya Sentani.
“Budaya bukan sekadar tontonan. Budaya adalah identitas, martabat, dan jati diri suatu masyarakat. Karena itu, budaya Sentani harus dirawat oleh pemiliknya, dilindungi pemerintah, serta diwariskan secara utuh kepada generasi berikutnya,” kata Herlan.
(Vanny Janggo/Redaksi)





Apa komentar anda ?