JAYAPURA, Nokenlive.com – Ketua Komite SMA Negeri 4 Jayapura, Jefri Robaha, menegaskan bahwa aksi pemalangan yang terjadi di sekolah tersebut bukan dilakukan oleh pihak sekolah, melainkan murni oleh masyarakat adat. Ia juga membantah stigma yang berkembang di masyarakat terkait dugaan adanya penjualan kursi dalam proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
Pernyataan itu disampaikan Jefri di Jayapura, Rabu (8/7/2026), menyusul polemik pemalangan yang sempat terjadi di SMA Negeri 4 Jayapura.
Menurut Jefri, tahun ini pihak komite dilibatkan secara penuh dalam mengawasi seluruh proses penerimaan siswa baru. Ia memastikan proses PPDB telah berjalan sesuai petunjuk teknis (juknis) yang ditetapkan Dinas Pendidikan.
“Selama proses penerimaan siswa baru, saya selalu berada di tempat untuk memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai aturan. Tidak ada praktik penjualan kursi seperti yang selama ini menjadi stigma di masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemalangan dilakukan oleh sekelompok masyarakat adat. Namun, melalui dua kali pertemuan dan mediasi yang difasilitasi oleh Polresta Jayapura Kota, persoalan tersebut akhirnya dapat diselesaikan secara damai.
“Kami sudah bernegosiasi dua kali dan difasilitasi oleh Polresta Jayapura Kota. Syukur, semuanya selesai dengan baik, tanpa kekerasan dan tanpa ada pembayaran apa pun,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura juga menegaskan bahwa jalur penerimaan siswa baru hanya terdiri dari empat jalur, yakni jalur afirmasi, prestasi, domisili, dan mutasi.
“Tidak ada jalur adat dalam penerimaan siswa baru. Semua sudah diatur secara nasional dan harus dipatuhi bersama,” tegas Jefri.
Ia berharap ke depan tidak ada lagi aksi pemalangan di dunia pendidikan karena pendidikan merupakan hak setiap anak dan tidak boleh dibatasi oleh pihak mana pun.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 4 Jayapura, Widya Kusmayanti, turut membantah tudingan adanya praktik jual beli kursi di sekolah yang dipimpinnya. Menurutnya, SMA Negeri 4 merupakan salah satu sekolah unggulan yang telah banyak menorehkan prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Prestasi kami bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional. Baru-baru ini dua siswa kami masuk dalam tim nasional dan baru kembali dari Spanyol. Jadi saya tegaskan bahwa SMA Negeri 4 memiliki standar dan kualitas yang harus dipertahankan,” ujarnya.
Widya mengakui mempertahankan prestasi sekolah bukan perkara mudah dan membutuhkan dukungan seluruh pihak, mulai dari sekolah, komite, orang tua hingga pemerintah.
Namun, ia mengaku kerap mendapat tekanan dari berbagai pihak, termasuk adanya permintaan titipan siswa di luar kuota yang telah ditetapkan.
“Kalau memang mau murni, kuota kami hanya 322 siswa. Tetapi adanya titipan dalam tanda kutip itu yang membuat kami tidak bisa berbuat apa-apa,” ungkapnya.
Pihak sekolah berharap seluruh proses PPDB ke depan dapat berjalan sesuai aturan yang berlaku tanpa adanya intervensi dari pihak mana pun, sehingga kualitas pendidikan dan prestasi SMA Negeri 4 Jayapura tetap dapat dipertahankan.
Jika diperlukan, berita ini juga bisa dibuat dalam versi yang lebih tajam untuk media online dengan gaya headline yang lebih kuat.
(Lisa/Redaksi)





Apa komentar anda ?