JAYAPURA, NOKENLIVE.com – Bupati Puncak, Elvis Tabuni, SE, MM, membagikan kisah perjalanan hidupnya yang penuh makna dalam sebuah wawancara eksklusif bersama Nokenlive di Jayapura. Dari seorang kepala desa hingga menjadi orang nomor satu di Kabupaten Puncak, ia menegaskan bahwa prinsip hidup, pendidikan, dan kedisiplinan adalah kunci utama kesuksesannya.
“Menghadapi tantangan itu tidak sulit bagi saya. Dari awal karier sebagai kepala desa, saya tidak pernah merasa kesulitan meskipun masyarakat banyak. Tugas saya adalah mengadili dan menyelesaikan masalah,” ujar Elvis.
Ia menegaskan bahwa sejak awal kepemimpinannya, ia selalu berpegang teguh pada prinsip.

“Kita memimpin itu harus berprinsip. Yang salah tetap salah, yang benar tetap benar. Jangan yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan,” tegasnya.
Salah satu kisah paling berkesan dalam hidupnya terjadi saat ia duduk di bangku kelas 6 SD. Kala itu, gurunya, Jhon Blegur, mengganti namanya dari Elias Tabuni menjadi Elvis Tabuni karena terdapat dua siswa dengan nama yang sama.

“Beliaulah yang kasih nama saya. Katanya Elvis itu nama populer, seperti penyanyi legendaris Amerika Elvis Presley. Saya sempat berpikir, apakah saya harus jadi penyanyi juga,” kenangnya.
Pertemuan kembali dengan sang guru di Nabire menjadi momen yang sangat emosional.
“Kami menangis bersama. Beliau dan isterinya mendoakan saya. Meski orang tua saya sudah meninggal, pak guru ini seperti orang tua saya sendiri. Tanpa didikan beliau, saya mungkin tidak akan sampai di posisi ini,” ungkap Elvis.
Menurutnya, kesuksesan tidak lepas dari kebiasaan disiplin sejak kecil.
“Saya dulu rajin belajar. Setiap ada PR saya kerjakan. Saya tidak pernah tinggal kelas. Bagi saya, pendidikan itu sangat penting,” katanya.

Perjalanan kepemimpinannya dimulai dari bawah. Ia mengaku mendapat didikan keras dan disiplin dari sejumlah camat seperti Eli Renmaur, Herry Dosinaen, Jamal Djuono, dan Ricard Rumbekwan. Bersama rekan-rekannya seperti Stevanus Murip dan Petrus Alom, ia ditempa menjadi pemimpin yang tangguh.
“Pak Jamal Djuono yang mendorong saya untuk terus sekolah. Beliau bilang saya harus sekolah supaya bisa jadi pemimpin, jadi camat, pilot, atau polisi. Dari situ saya termotivasi,” jelasnya.
Elvis juga pernah mengalami kegagalan saat pertama kali mencalonkan diri sebagai bupati karena tidak memenuhi syarat pendidikan. Namun, kegagalan itu justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
“Saya tidak punya ambisi harus menang. Saya justru berpikir harus belajar lagi. Akhirnya saya lanjut S1 dan S2 di Universitas Cenderawasih,” tuturnya.
Dengan pengalaman puluhan tahun sebagai kepala desa dan 25 tahun sebagai anggota DPR, ia merasa memahami kebutuhan masyarakatnya secara mendalam. Hal inilah yang mendorongnya untuk maju sebagai bupati.
Kini, memimpin wilayah pegunungan yang penuh tantangan dan konflik, Elvis tetap teguh menjalankan tugasnya.
“Saya pantang menyerah. Wilayah Puncak memang rawan dan sulit, antar distrik harus pakai pesawat. Tapi demi masyarakat dan pembangunan, saya tidak akan menyerah,” tegasnya.
Ia juga menyadari keterbatasannya sebagai manusia.
“Saya tidak sempurna, karena itu saya selalu mengandalkan Tuhan dalam bekerja,” katanya.
Dalam menjalankan pemerintahan, Elvis memanfaatkan pengalamannya di DPR sebagai dasar perbaikan tata kelola. Ia menekankan pentingnya fungsi kontrol terhadap jalannya pemerintahan.
“Saya tahu kelemahan pemerintah dari berbagai bidang, dan itu yang saya perbaiki,” ujarnya.
Salah satu langkah konkret yang telah dilakukan adalah percepatan administrasi anggaran daerah.
“Dalam sidang APBD 2025–2026 se-Papua Tengah, Kabupaten Puncak menjadi yang pertama menyerahkan DPA. Itu karena pengalaman saya di DPR,” jelasnya.
Saat ini, ia menargetkan pembangunan infrastruktur dasar sebagai prioritas, seperti gedung guest house di Gome yang sudah rampung, kantor bupati, kantor DPRK, hingga fasilitas perbankan dan akses jalan darat.
Namun, ia menegaskan bahwa pembangunan di wilayah Puncak tidak bisa disamakan dengan daerah lain.

“Saya tidak bisa janji banyak. Wilayah saya ini sulit. Jadi saya lakukan dulu, kerja dulu, baru saya sampaikan ke masyarakat,” ujarnya.
Sebagai pemimpin, ia juga berkomitmen untuk turun langsung ke masyarakat, bahkan ke wilayah yang selama ini belum pernah dikunjungi kepala daerah sebelumnya.
“Saya dipilih rakyat, jadi saya harus datang melihat mereka. Seperti di Distrik Jila, belum pernah ada kepala daerah datang, tapi saya usahakan untuk ke sana,” katanya.

Kisah Elvis Tabuni menjadi bukti bahwa kepemimpinan lahir dari proses panjang, disiplin, ketekunan, dan doa, serta peran besar seorang guru yang mampu mengubah jalan hidup seorang muridnya.
(Dwi Andreas – Redaksi DA)







Apa komentar anda ?