JAYAWIJAYA, NOKENLIVE.com – Yayasan Bantulah Usaha Pemberantasan Buta Huruf Indonesia (YBUPBHI) menggagas sebuah metode pembelajaran baru bertajuk “5 Huruf Vokal Bung Karno” sebagai upaya mempercepat pemberantasan buta aksara, khususnya di wilayah Papua Pegunungan.
Gagasan tersebut diperkenalkan dalam diskusi khusus yang digelar YBUPBHI dalam rangka memperingati momentum bersejarah gerakan literasi yang pernah dicanangkan oleh Sang Proklamator, Bung Karno, pada Sabtu (14/3/2026).
Direktur YBUPBHI, Bertus Asso, dalam jumpa pers di kantor yayasan menjelaskan bahwa pihaknya berupaya menggali kembali semangat perjuangan Bung Karno ketika mencanangkan gerakan pemberantasan buta huruf di Alun-Alun Utara Yogyakarta puluhan tahun silam.
Menurutnya, pada masa tersebut tingkat buta aksara di Indonesia sempat mencapai 98 persen, namun melalui kebijakan strategis pemerintah saat itu angka tersebut mampu ditekan secara signifikan.
“Semangat itulah yang ingin kami hidupkan kembali melalui gerakan literasi yang lebih sederhana dan mudah diterapkan,” ujar Bertus.
Ia menjelaskan, metode yang dikembangkan YBUPBHI menitikberatkan pada konsep efisiensi huruf dalam proses belajar membaca dan menulis. Prinsip tersebut, kata dia, terinspirasi dari arahan Presiden RI Prabowo Subianto mengenai efisiensi dalam berbagai sektor.
“Kami mengefisienkan 26 huruf menjadi fokus pada 5 huruf vokal (A, I, U, E, O) dan konsonan terpilih (B, K, L, S, M). Ini menjadi gerbong utama kami untuk mencerdaskan anak bangsa yang belum bisa baca, tulis, maupun menyusun paragraf,” jelasnya.
Metode tersebut nantinya akan dituangkan dalam enam seri buku pembelajaran yang saat ini tengah diproses pendaftarannya untuk memperoleh ISBN. Setelah legalitas tersebut rampung, YBUPBHI berencana melakukan peluncuran resmi sekaligus menawarkan metode tersebut kepada Pemerintah Republik Indonesia agar dapat diintegrasikan dalam kurikulum nasional.
Bertus menilai Papua Pegunungan memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pengembangan metode tersebut, meskipun secara historis wilayah tersebut tidak termasuk dalam peta awal gerakan literasi Bung Karno.
“Di sini akan menjadi pusat ‘Sekolah Rakyat’ dan pusat pengendali pendidikan berbasis metode lima huruf vokal tersebut. Kami ingin membangun pendidikan dari dasar secara kolektif,” katanya.
Sementara itu, Wenus Welson Siep menambahkan bahwa nama yayasan “Bantulah Usaha Pemberantasan Buta Huruf Indonesia” diambil secara langsung dari instruksi Bung Karno tanpa perubahan.
“Nama ‘Bantulah Usaha Pemberantasan Buta Huruf Indonesia’ kami ambil langsung tanpa menambah atau mengurangi satu kata pun. Ini bertujuan menjaga eksistensi dan esensi dari pesan asli Sang Proklamator,” jelas Wenus.
Melalui gagasan ini, YBUPBHI berharap pemerintah dapat menyambut baik inovasi metode pembelajaran tersebut sebagai langkah nyata dalam mempercepat pemberantasan buta aksara hingga ke pelosok negeri, sekaligus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
(Tundemin – Redaksi MR)





Apa komentar anda ?