BIAK,NOKENLIVE.com- Atraksi budaya Perahu Mansusu dan Perahu Wairon mengawali pembukaan Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) yang berlangsung di lokasi wisata Mangrov Kali Ruar, Biak Timur, Biak Numfor, Papua, Selasa (1/7/2025).
Pembukaan Festival Biak Munara Wampasi ini dibuka secara resmi oleh Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Biak Numfor, Otto P. Wanggai.
Parade perahu tradisional merupakan rangkaian kegiatan Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) di hari pertama.
Mewakili Bupati Biak Numfor, Otto P. Wanggai menyampaikan permintaan maaf karena padatnya agenda, sehingga bupati tidak dapat menghadiri kegiatan tersebut.
Atraksi Perahu Mansusu dan Perahu Wairon merupakan gambaran Suku Biak pada jaman dulu bagaimana mempertahankan hidup dan menjaga tanahnya dengan caranya sendiri.
Tidak hanya itu, Suku Biak pada zaman itu juga berperang antara kampung atau suku untuk mencari budak.
“Dulu itu ada di kenal dengan perbudakan. Suku Biak perang antar kampung atau suku merebut kampung tempat dan anak-anak untuk di jadikan budaknya,” jelasnya dalam sambutan.
Melalui atraksi yang dilakukan di Festival Munara Wampasi hari ini, menjadi momen untuk mengenang sejarah budaya Suku Biak, tidak hanya kepada masyarakat yang menyaksikan, tetapi juga kepada anak cucu kedepannya.

Sementara itu, Koordinator Panitia Parade Perahu Tradisional FBMW Edison Randongkir menjelaskan, pada parade perahu tradisional di ikuti oleh 13 tim peserta dari beberapa sanggar yang aktif berkarya di Biak.
“Setiap sanggar di kasih 2 perahu, dan 1 perahu 2 orang peserta. Jadi keseluruhan nya ada 13 perahu yang terdiri dari masing-masing perahu berjumlah 2 orang peserta, jadi totalnya ada 24 orang,” jelasnya.
Edison mengatakan, pada aktrasi parade perahu yang dilakukan hari ini, lebih di khususkan pada aktrasi 2 jenis perahu, yaitu perahu perang atau yang dikenal dengan Perahu Mansusu dan Perahu Wairon yang di kenal perahu untuk berdagang.
“Kedua perahu bisa di gunakan untuk berperang, tetapi Perahu Mansusu dan Perahu Wairon memiliki bentuk, motif atau gambar dan kegunaannya pun berbeda. Kalau Perahu Mansusu bagian depan dan belakang memiliki dua sisi yang sama dan di kenal atau biasa di spesialkan hanya untuk berperang. Sedangkan, Perahu Wairon untuk berdagang,” bebernya.
Kata Edison, untuk motif ukiran di Perahu Mansusu adalah motif naga atau dalam bahasa Biak di sebut korben. Arti dari simbol naga dari para leluhur simbol kekuatan terbesar yang mana dapat memberikan kekuatan kepada mereka saat berperang.
“Jadi saat itu, mereka masih mempercayai simbol-simbol seperti itu. ada dua simbol di darat dan di laut yang mereka percaya. Kekuatan terbesar di darat dan di laut itu simbol korben atau naga diyakini para leluhur sebagai kekuatan terbesar untuk berperang dan mendayung,” ungkapnya.
“Kalau kekuatan di laut disimbolkan seperti salah satu binatang di dalam laut, yang bentuknya seperti belalang sembah atau mantis,” sambung dia.
Untuk diketahui Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) 2025 yang ke-10 digelar mulai tanggal 1 Juli hingga 4 Juli 2025 dengan mengusung tema Biak Istimewa.
FBMW merupakan event tahunan yang digelar pada bulan Juli. Pada event tersebut mempromosikan potensi pariwisata Kabupaten Biak Numfor melalui pagelaran budaya, wisata bahari, pesona alam, kuliner khas dan pameran ekonomi kreatif. (Lisa/Fredik).





Apa komentar anda ?