SENTANI, NOKENLIVE. com — Ratusan masyarakat adat Suku Sentani dari berbagai sub suku memadati pelataran Rumah Besar atau Rumah Adat (Obhe) Kampung Asei Nolokla, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (30/1/2025). Mereka berkumpul dalam Acara Adat Budaya Lepas Sambut Tahun Baru Hillo Noro, Makheng Noro 2026, sebuah perayaan sakral yang sarat makna persatuan dan kebersamaan.
Suku-suku yang hadir dalam perayaan adat tahunan ini antara lain Ohee, Ongge, Janggo, Puraro, Kere, Nere, Suangburaro, Puhiri, dan Pouw. Acara ini menjadi momentum penting untuk mempererat kembali ikatan adat dan persaudaraan seluruh masyarakat Sentani di Kampung Asei Nolokla.

Rangkaian acara diawali dengan penabuhan tambur sebagai tanda pembukaan resmi kegiatan adat. Selanjutnya dilakukan penjemputan secara khusus para kepala suku bersama seluruh masyarakat adat masing-masing suku menuju Rumah Adat Besar (Obhe). Prosesi dilanjutkan dengan pengalungan noken oleh para kepala suku kepada Ondofolo/Ondoafi Yansen Ohee sebagai simbol penghormatan dan persatuan.

Salah satu momen yang paling sakral dan penuh makna dalam perayaan ini adalah Dansa Adat Menggew. Dansa ini dibawakan oleh seluruh masyarakat adat, tua dan muda, khususnya para perempuan dari semua suku di kampung tersebut. Dalam tarian ini, para perempuan meneriakkan kata “Mengguew”, yang bermakna ikatan kebersamaan batin, adat, dan persaudaraan. Tarian ini merupakan bentuk penghormatan dan sanjungan kepada para paman dan tetua adat yang disampaikan secara terbuka dan penuh khidmat.
Sebagai balasan atas penghormatan tersebut, para paman dan tetua adat memberikan balasan adat kepada para keponakan berupa berbagai hasil pangan lokal, seperti sagu, umbi-umbian, pisang, beras, ikan, daging, dan bahan makanan lainnya. Tradisi timbal balik ini mencerminkan kuatnya nilai saling menghargai dan menjaga keseimbangan sosial dalam budaya Sentani.
Suasana suka cita dan kebersamaan tampak begitu kental sepanjang acara. Perayaan Lepas Sambut Tahun Baru Hillo Noro–Makheng Noro ini merupakan agenda budaya yang rutin digelar setiap awal tahun dan menjadi simbol nyata kokohnya persatuan antar seluruh suku di Kampung Asei Nolokla.

Dalam sambutannya, Ondoafi Heram Dasima Kleubeuw, Yansen Ohee, menyampaikan pesan-pesan penting kepada seluruh masyarakat adat yang hadir. Ia menegaskan bahwa perayaan ini merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan.

“Acara lepas sambut tahun baru ini adalah bentuk ucapan syukur, karena Tuhan Allah tetap memelihara dan menjaga kita semua. Ini juga menjadi tanda bahwa persatuan dan kebersamaan seluruh suku yang ada di kampung besar ini tetap terjaga dengan baik, jadi bagi sanak keluarga Menggew Fa Fa, yang berada di jauh-jauh, boleh datang, karena di sini tra kosong (tidak kosong-red).” ujar Yansen Ohee.

Ia juga berharap agar persatuan tersebut terus terpelihara dan semakin kuat di masa mendatang.
“Saya berharap ke depan persatuan dan kebersamaan ini semakin baik. Terima kasih kepada seluruh suku yang telah hadir dan berpartisipasi, sehingga acara lepas sambut tahun baru ini dapat terlaksana dengan baik,” tambahnya.
Rangkaian acara adat ditutup dengan ramah tamah dan santap makan bersama. Berbagai menu khas Suku Sentani disajikan, dengan Papeda dan Obho Kuah (daging babi kuah) sebagai menu utama, serta Ikan Khayouw (gabus betutu), ikan endemik khas Danau Sentani, dan aneka hidangan tradisional lainnya.
Perayaan Hillo Noro–Makheng Noro 2026 ini kembali menegaskan bahwa adat dan budaya Sentani tidak hanya hidup, tetapi terus menjadi fondasi utama dalam menjaga harmoni, persaudaraan, dan identitas masyarakat adat di Tanah Papua.
(Dwi Andreas – Redaksi MR)





Apa komentar anda ?