JAYAPURA, Nokenlive.com – SMP Negeri 9 Jayapura mulai menerapkan pembelajaran bahasa ibu, khususnya bahasa Enggros dan Tobati, kepada para siswa pada tahun ajaran 2026/2027.
Pembelajaran tersebut menjadi bagian dari kurikulum muatan lokal dan mulai diterapkan sejak awal tahun ajaran baru. Program ini diharapkan tidak hanya membuat siswa memahami bahasa ibu secara teori, tetapi juga mampu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Plt. Kepala SMPN 9 Jayapura, Panjaitan, mengatakan penerapan bahasa Enggros-Tobati merupakan tindak lanjut dari kebijakan Pemerintah Kota Jayapura terkait pembelajaran bahasa ibu melalui kurikulum muatan lokal.
“Di SMPN 9 Jayapura sudah mulai menerapkan pembelajaran bahasa ibu, khususnya bahasa Enggros dan Tobati. Saat ini sudah masuk minggu kedua dan pembelajarannya dimasukkan dalam kegiatan ekstrakurikuler,” ujar Panjaitan saat ditemui, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, pembelajaran bahasa ibu dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa, seperti sapaan, berhitung, mengenal benda-benda di lingkungan sekolah hingga mengenal warna menggunakan bahasa Enggros dan Tobati.
Salah satu contoh sapaan yang mulai dikenalkan kepada siswa adalah “Nansam Wani”, yang berarti “selamat pagi”.
Panjaitan berharap siswa dapat menggunakan bahasa Enggros dan Tobati bukan hanya ketika berada di sekolah, tetapi juga saat berkomunikasi dengan keluarga dan lingkungan tempat tinggal.
“Harapannya anak-anak dapat mengimplementasikan bahasa ibu ini dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di dalam keluarga,” katanya.
Ia menilai penerapan bahasa ibu di sekolah menjadi langkah konkret untuk menjaga dan memperkenalkan kembali bahasa daerah kepada generasi muda.
Dengan pembelajaran yang bersifat praktis, siswa tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menggunakan bahasa tersebut dalam aktivitas sehari-hari.
“Ini sebuah kemajuan secara konkret karena anak didik bukan saja memahami teorinya, tetapi bisa menerapkan apa yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Guru Turut Dukung Pelestarian Bahasa Ibu
Penerapan pembelajaran bahasa Enggros dan Tobati di SMPN 9 Jayapura tidak hanya mendapat dukungan dari siswa. Para guru juga berkomitmen mendukung pelaksanaan program tersebut.
Untuk siswa kelas 7, pembelajaran bahasa ibu dilakukan dengan bimbingan langsung para wali kelas. Sementara kelas 8 dan 9 mengikuti pembelajaran yang terintegrasi dalam kegiatan kokurikuler berbasis 8 Dimensi Profil Lulusan.
Setiap jenjang memiliki tema pembelajaran yang berbeda. Kelas 7 mengambil tema komunikasi dengan fokus pada bahasa ibu Enggros dan Tobati. Kelas 8 mengangkat tema keterampilan melalui keterampilan lokal dan daur ulang, sedangkan kelas 9 mengambil tema kesehatan yang diintegrasikan dengan Kurikulum Anti Narkoba (IKAN).
Sekolah juga mendapat dukungan dari seorang Duta Bahasa Ibu, Ilsah, S.Pd., yang turut membantu proses pembelajaran bahasa Enggros dan Tobati di SMPN 9 Jayapura.
Panjaitan berharap penerapan pembelajaran bahasa ibu dapat dilakukan secara konsisten di berbagai satuan pendidikan di Kota Jayapura, mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA/SMK.
Menurutnya, upaya tersebut penting agar bahasa daerah tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda di tengah perkembangan zaman.
“Semoga semua satuan pendidikan di Kota Jayapura bisa satu gerak langkah dalam mengimplementasikan pembelajaran bahasa ibu sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal,” pungkasnya.
(Melviandres Pamanggori/Redaksi)





Apa komentar anda ?