WAMENA, Nokenlive.com – Pemerintah Kabupaten Jayawijaya menggelar rapat koordinasi darurat guna merespons konflik antarkelompok masyarakat yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kota Wamena, Papua Pegunungan, Sabtu (16/5/2026). Konflik tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan rumah adat, hingga memaksa sebagian warga mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Rapat yang berlangsung di Kantor Bupati Jayawijaya itu dipimpin langsung oleh Bupati Jayawijaya, Atenius Murib. Pertemuan tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Ribka Haluk, Gubernur Papua Pegunungan John Tabo, serta Wakil Gubernur Papua Pegunungan Ones Pahabol.
Selain unsur pemerintah daerah, rapat juga diikuti para bupati dari delapan kabupaten di Papua Pegunungan, DPR Adat Jayawijaya, Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Pegunungan, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen masyarakat lainnya.
Dalam rapat tersebut, Kapolres Jayawijaya Anak Agung Made Satriya Bimantara memaparkan perkembangan situasi keamanan serta proses pencarian korban yang hingga kini masih terus dilakukan aparat gabungan di sejumlah titik konflik.
Kapolres meminta seluruh tokoh masyarakat dan pemerintah daerah segera turun langsung ke tengah masyarakat untuk menyampaikan hasil rapat sekaligus meredam mobilisasi massa yang masih terjadi di beberapa wilayah Kota Wamena.
“Semua tokoh harus turun langsung ke masyarakat untuk menjelaskan hasil pertemuan hari ini supaya masyarakat memahami situasi yang ada. Setelah ada komunikasi yang baik, kami berharap kondisi bisa kembali kondusif,” ujar Kapolres dalam rapat tersebut.
Ia menegaskan bahwa proses pencarian korban masih terus dilakukan, termasuk di wilayah Kali Uweime yang menjadi salah satu titik terdampak konflik paling parah.
“Kami sudah delapan hari melakukan pencarian korban di Kali Uweime. Dari 33 korban yang dicari, baru 22 orang berhasil ditemukan, sementara 11 lainnya masih dalam proses pencarian akibat kondisi lokasi yang sulit setelah jembatan putus saat konflik terjadi,” katanya.
Berdasarkan data kepolisian yang disampaikan dalam rapat tersebut, jumlah korban akibat konflik hingga Jumat (15/5/2026) tercatat mencapai 38 orang. Selain korban jiwa, sedikitnya tiga honai atau rumah adat dilaporkan terbakar di wilayah Woma.
“Kami dari kepolisian masih terus melakukan pencarian warga di titik-titik lokasi perang,” tambah Kapolres.
Sementara itu, pembela HAM Papua dari YKKMP, Theo Hesegem, mengatakan pihaknya telah melakukan evakuasi terhadap perempuan dan anak-anak ke sejumlah lokasi aman guna menghindari dampak konflik yang lebih luas.
“Saya bersama tim melakukan evakuasi ibu-ibu dan anak-anak ke tempat aman. Sebagian ditempatkan di lingkungan Polres Jayawijaya, gereja Katolik, dan beberapa lokasi lainnya,” ungkap Theo Hesegem.
Rapat koordinasi darurat tersebut menghasilkan komitmen bersama antara pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat untuk menghentikan konflik, memulihkan stabilitas keamanan di Wamena, serta mempercepat penanganan korban dan warga terdampak.
Pemerintah juga mengimbau seluruh masyarakat Papua Pegunungan agar menahan diri dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memperkeruh situasi keamanan di wilayah tersebut.
(Tundemin Kogoya/Redaksi)





Apa komentar anda ?