JAYAPURA, Nokenlive.com – Kasus penyakit malaria di Kota Jayapura menunjukkan angka yang cukup tinggi sepanjang triwulan pertama tahun 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jayapura mencatat sebanyak 9.251 kasus malaria terjadi sejak Januari hingga Maret 2026.
Hal tersebut disampaikan Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, drg. Juliana Napitupulu saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (17/4/2026). Ia mengungkapkan, data tersebut dihimpun dari laporan 14 puskesmas yang tersebar di 25 kelurahan dan 5 distrik di Kota Jayapura.
“Berdasarkan laporan yang diterima dari 14 puskesmas, selama triwulan pertama tahun 2026, penyakit yang paling banyak dikeluhkan masyarakat yaitu malaria, faringitis atau radang tenggorokan, dan hipertensi,” ujarnya.
Menurutnya, dari ketiga penyakit tersebut, malaria menjadi yang paling dominan dilaporkan masyarakat.
“Penyakit malaria menempati urutan teratas, lalu radang tenggorokan dan hipertensi. Inilah yang dikeluhkan warga selama triwulan pertama 2026 yang dicatat petugas kesehatan di 14 puskesmas,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, untuk penanganan malaria, pihaknya bersama puskesmas menggandeng kader malaria untuk turun langsung ke masyarakat. Pemeriksaan dilakukan melalui tes darah, baik pada warga yang bergejala maupun tidak.
“Untuk mengetahui keluhan sakit malaria ini, dinas dan puskesmas bekerja sama dengan kader malaria yang turun ke tiap warga guna melakukan pemeriksaan dengan periksa darah, dan apabila bergejala ataupun tidak langsung diberikan obat,” jelasnya.
Program tersebut, lanjut Napitupulu, merupakan bagian dari program Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang menerapkan sistem jemput bola dalam penanganan malaria.
Sementara itu, penyakit radang tenggorokan atau faringitis juga cukup banyak ditemukan, terutama pada kelompok balita, remaja, hingga usia produktif.
Dalam upaya pencegahan, Dinkes juga membagikan kelambu anti-nyamuk kepada kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia. Masyarakat juga diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan.
“Warga diingatkan supaya tetap menjaga lingkungan tetap bersih dan menghindari selokan yang tergenang, karena bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk pembawa malaria,” ujarnya.
Terkait pengobatan, Napitupulu memastikan ketersediaan obat malaria dalam kondisi aman dan dapat diakses secara gratis oleh masyarakat.
“Untuk obat malaria sangat cukup, langsung dari Kementerian Kesehatan dan gratis diberikan kepada warga yang sakit malaria ketika berobat di puskesmas maupun rumah sakit,” tegasnya.
Adapun rincian kasus malaria selama Januari hingga Maret 2026 yakni: Januari sebanyak 3.160 kasus, Februari 3.484 kasus, dan Maret 2.607 kasus. Total keseluruhan mencapai 9.251 kasus.
Ia juga menambahkan, sejak Januari 2026, seluruh puskesmas di Kota Jayapura telah meningkatkan layanan menjadi 24 jam, dari sebelumnya hanya 18 jam pada tahun 2025.
Namun demikian, fasilitas penunjang masih menjadi kendala, terutama ketersediaan ambulans. Dari 14 puskesmas yang ada, baru 6 puskesmas yang memiliki mobil ambulans, sementara 8 lainnya belum.
Di akhir pernyataannya, Napitupulu mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat guna mencegah berbagai penyakit.
“Masyarakat diimbau melakukan pola hidup sehat dengan menjaga personal higiene, menjaga pola makan, istirahat yang cukup, olahraga, serta memperhatikan kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan,” tutupnya.
( Melviandres Pamanggori – Redaksi MR )





Apa komentar anda ?