Puluhan mahasiswa demonstrasi titik kumpul di Universitas Cenderawasih (Uncen) Perumnas III Waena, Jayapura, Papua dihadang aparat kepolisian agar tak melakukan longmarch (jalan kaki) menuju lingkaran Abepura.
Tak diizinkannya mahasiswa melakukan longmarch menuju lingkaran Abepura, akibatnya puluhan mahasiswa tertahan digapura Uncen atas, Perumnas III Waena.
Aksi demo mahasiswa ini terkait kasus pembunuhan disertai mutilasi dilakukan sejumlah oknum TNI AD kepada empat orang warga sipil asal Nduga yang terjadi di Timika beberapa waktu lalu.
Ketua Korlab, Mezak Dogomo kepada wartawan nokenlive.com menyangkan pihak kepolisian yang tidak memberikan izin mahasiswa melakukan longmarch menuju lingkaran Abepura untuk bergabung dengan mahasiswa lainnya selanjutnya menuju Kantor DPR Papua menyampaikan aspirasi.
“Hari ini aparat keamanan (kepolisian) sudah jelas membungkam ruang demokrasi. Walaupun didalam UU sudah menjamin bahwa, setiap orang berhak menyampaikan pendapat dimuka umum,” ujar Mezak Dogomo.
Kata Mesak Dogomo para mahasiswa dijaga ketat oleh aparat keamanan hingga kami massa aksi tidak ada ruang untuk bergerak menyampaikan pendapat dimuka umum.
Ketua MPM Uncen, Apinel Doo mengatakan bahwa, pihak BEM, DPMF, MPM dan Korlab bersama mahasiswa melakukan aksi demonstrasi sekitar pukul 8.00 WIT. Selanjutkan akan menuju lingkaran Abepura.
Namun aksi demonstrasi dihadang aparat kepolisian untuk tidak melakukan perjalanan menuju lingkaran Abepura dengan berjalan kaki.
Apinel Doo menjelaskan, pihaknya melakukan negosiasi dengan pihak keamanan untuk minta akses longmact menuju lingkaran Abepura sebagai sentral titik kumpul, namun tidak diizinkan dengan alasan dapat mengganggu aktivitas jalan.
“Ini benar-benar membukam ruang demokrasi. Ini bukan main-main, tetapi realita yang terjadi, sehingga pihak keamanan sendiri yang tidak menjalankan UU Hukum yang ada diatas negara Indonesia,” jelas Apinel Doo.
Lanjut Apinel Doo, kasus mutilasi ini bukan masalah lokal dan nasional tetapi telah menjadi masalah internasional sehingga agenda mahasiswa akan terus kawal agar kasus ini dibahas di sidang PBB secara serius.
“Kami mahasiswa menuntut agar dewan HAM PBB datang ke Papua untuk menginfestigasi masalah pelanggaran HAM berat di Papua,” tutup Doo.(TIMOTIUS BOMA)





Apa komentar anda ?