ILAGA , nokenlive.com — Dampak musim kemarau berkepanjangan yang dipicu fenomena El Nino semakin meluas di Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Selain kekeringan, masyarakat menghadapi cuaca ekstrem berupa hujan es, embun salju, suhu udara sangat rendah hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Bupati Puncak Elvis Tabuni menyampaikan kondisi tersebut dalam rapat koordinasi penanganan El Nino Provinsi Papua melalui Zoom, Minggu (23/8/2026).
Menurutnya, rangkaian cuaca ekstrem telah terjadi sejak Juni 2026 dan berdampak terhadap masyarakat serta lahan pertanian.
Elvis menjelaskan, pada Juni lalu hujan es, embun salju dan suhu udara ekstrem terjadi di Distrik Agandugume, Lambewi dan Oneri. Kondisi tersebut dilaporkan merusak lahan pertanian masyarakat.
Memasuki Agustus, kondisi serupa kembali terjadi. Pada 18 Agustus, hujan es dan embun salju dilaporkan melanda Yewi, Sinak, Mage’abume, Omukia, Gome dan wilayah sekitarnya.
Cuaca ekstrem kembali dilaporkan terjadi pada 20 hingga 23 Agustus di sejumlah wilayah, antara lain Distrik Ilaga, Gome, Ilaga Utara dan Gome Utara.
“Kekeringan sekarang juga sudah sampai di Kota Ilaga,” kata Elvis. Ia menyebut dampak kekeringan terasa mulai dari sekitar SMA Negeri hingga rumah sakit dan kawasan pegunungan menuju Bandara Aminggaru.
Karhutla Meluas
Di tengah kondisi kemarau panjang, kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Puncak. Api dilaporkan masih bergerak di bagian selatan Distrik Omukia, Gome Utara dan bagian timur Distrik Gome.
“Asap tutup di wilayah Kabupaten Puncak sekitarnya,” ujar Elvis dalam rapat tersebut.
Dandim 1717/Puncak Letkol Inf Himawan Adi Susanto melaporkan, sekitar 52 hektare lahan telah terbakar akibat kondisi kemarau.
Kebakaran tersebut tersebar di tujuh distrik. Di Distrik Agandugume masih terdapat dua titik api dengan intensitas sedang. Sementara di Ilaga Utara terpantau satu titik merah dan tiga titik kuning.
Satu titik api besar di Ilaga Utara sebelumnya berhasil dipadamkan personel Pasukan Tugas (Pasgas). Lokasi kebakaran yang berada di sekitar rawa dan hamparan ilalang dinilai berpotensi memperluas kobaran api.
Di Distrik Gome masih terdapat satu titik merah. Sedangkan di Omukia terpantau dua titik merah dan delapan titik kuning.
Kondisi serupa terjadi di Distrik Mage’abume dengan sembilan titik yang masih terpantau. Medan pegunungan yang ekstrem menjadi salah satu kendala bagi personel dalam menjangkau lokasi kebakaran.
Sementara itu, di Gome Utara masih terdapat empat titik kuning. Pemerintah daerah bersama aparat terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan titik panas dan kebakaran di wilayah terdampak.
220 Ton Beras Disalurkan
Dampak kekeringan juga mulai dirasakan masyarakat, khususnya di wilayah yang mengalami gangguan terhadap lahan pertanian. Pemerintah Kabupaten Puncak telah menyalurkan bantuan beras untuk membantu masyarakat terdampak.
Khusus Distrik Agandugume, Lambewi dan Oneri, sebanyak 220 ton beras telah didistribusikan kepada masyarakat.
Pemerintah daerah bersama aparat kini terus melakukan pemantauan dan penanganan titik api untuk mencegah kebakaran meluas.
Penanganan menjadi semakin penting mengingat kondisi kemarau masih berlangsung dan dampaknya berpotensi mengganggu ketahanan pangan masyarakat.
Adapun sebaran titik api yang dilaporkan yakni Agandugume dua titik kuning, Ilaga Utara satu titik merah dan tiga titik kuning, Gome satu titik merah, Ilaga lima titik kuning, Omukia dua titik merah dan delapan titik kuning, Mage’abume sembilan titik kuning, serta Gome Utara empat titik kuning.
(Lisa – Redaksi DA)





Apa komentar anda ?