WAMENA, Nokenlive.com – Konflik antarwarga yang terjadi di Distrik Wouma, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat. Tidak hanya menyebabkan kerusakan rumah dan memaksa warga mengungsi, konflik tersebut juga memisahkan anggota keluarga, termasuk seorang balita yang ditemukan sendirian di lokasi bentrokan.
Balita berusia sekitar 1,5 tahun itu kini berada dalam penanganan keluarga Wakapolres Jayawijaya bersama para pengungsi lainnya. Hingga saat ini, belum ada pihak keluarga yang datang mengakui ataupun mencari anak tersebut.

Salah seorang pengungsi bernama Agustina kepada media ini mengatakan, anak itu ditemukan saat situasi penyerangan berlangsung di Wouma beberapa hari lalu. Karena masih sangat kecil dan belum bisa berbicara, identitas maupun asal keluarganya belum diketahui.
“Anak ini ditemukan saat perang terjadi. Waktu itu masyarakat yang menyelamatkan dia langsung membawanya ke Polres Jayawijaya. Awalnya sempat ditangani seorang anggota Polwan, lalu ibu Wakapolres membawa dan merawatnya di rumah,” ujar Agustina.

Menurutnya, informasi mengenai keberadaan balita tersebut sudah disebarkan melalui berbagai grup WhatsApp dan kepada para pengungsi yang datang ke Polres Jayawijaya. Namun hingga kini belum ada orang tua maupun kerabat yang datang mencari.
“Kami khawatir orang tuanya menjadi korban dalam konflik atau termasuk rumah-rumah yang terbakar. Dari kemarin sampai sekarang belum ada yang datang mengaku sebagai keluarganya,” katanya.
Saat ini sekitar 20 pengungsi, terdiri dari anak-anak dan orang dewasa, masih tinggal sementara di rumah Wakapolres Jayawijaya. Sebagian besar merupakan warga yang menyelamatkan diri dari wilayah konflik.
Agustina menjelaskan, bantuan dari Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan mulai disalurkan berupa kasur dan selimut. Namun kebutuhan pangan para pengungsi masih sangat terbatas.

“Baru ada bantuan pop mie satu karton. Untuk makan sehari-hari sementara masih dibantu keluarga bapak Wakapolres. Kami berharap ada bantuan bahan makanan dan kebutuhan anak-anak,” ujarnya.
Sementara itu, selain tempat pengungsian yang di siapkan pemerintah, warga lain yang terdampak konflik memilih mengungsi ke rumah keluarga di sejumlah wilayah sekitar Kota Wamena, seperti Pike, Hom-hom, Kurulu, hingga Pesugi Kama.
Konflik di Wouma sendiri telah menyebabkan banyak warga kehilangan tempat tinggal dan memicu trauma mendalam, terutama bagi anak-anak yang harus terpisah dari keluarganya di tengah situasi mencekam.
(Menas/Redaksi)





Apa komentar anda ?