JAYAPURA, NOKENLIVE.com – Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Papua memastikan ketersediaan stok beras di wilayah Papua dalam kondisi aman hingga empat bulan ke depan. Total stok yang tersedia saat ini mencapai 28.000 ton, termasuk untuk menghadapi kebutuhan selama bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 2026.

Pemimpin Perum Bulog Kanwil Papua, Ahmad Mustari, menyampaikan hal tersebut saat ditemui awak media di ruang kerjanya, Rabu (25/2/2026), di Kantor Kanwil Bulog Papua, Jayapura.
Mustari menegaskan bahwa stok beras yang tersedia di gudang Bulog Papua sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Untuk stok beras yang ada di gudang Bulog Kanwil Papua sangat tersedia, bahkan untuk empat bulan ke depan masih cukup aman,” ujarnya.
Ia menjelaskan, khusus memasuki bulan Ramadan hingga Hari Raya Lebaran, total stok yang tersedia sekitar 28.000 ton. Beras tersebut merupakan jenis beras medium yang berasal dari kiriman Surabaya, Jawa Timur.
“Total stok yang tersedia sekitar 28 ribu ton, untuk jenis beras medium yang berasal dari kiriman Surabaya, Jawa Timur,” ucapnya.
Dari jumlah tersebut, sekitar 2.000 ton tersimpan di Kompleks Pergudangan Argapura, Jayapura, termasuk stok gula.
“Khusus untuk stok beras yang ada di Kompleks Pergudangan Argapura di Jayapura sekitar 2.000 ton dari total 28.000 ton secara keseluruhan dan termasuk gula,” jelasnya.
Mustari menambahkan, puluhan ribu ton beras tersebut dapat melayani kebutuhan Aparatur Sipil Negara (ASN), TNI, dan Polri, termasuk mendukung kegiatan gerakan pasar murah serta penyaluran program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di wilayah Papua.
Terkait penyaluran beras SPHP, ia menyebutkan bahwa distribusi masih terus dilakukan. Pada tahun 2025, target penyaluran SPHP di Papua sebesar 87.000 ton, namun realisasinya baru mencapai 22.000 ton.
“Beras SPHP masih terus disalurkan oleh Perum Bulog wilayah Papua, karena target di tahun 2025 lalu 87.000 ton beras SPHP dan realisasi baru 22.000 ton, sehingga akan terus disalurkan di Papua dengan peruntukannya kepada masyarakat di Papua,” terangnya.
Dalam kegiatan pasar murah selama Ramadan dan menjelang Lebaran 2026, beras SPHP dijual dengan harga Rp60.000 per karung ukuran 5 kilogram. Sementara di gudang Bulog maupun agen penjualan resmi, harga sesuai ketentuan sebesar Rp65.000 per 5 kilogram.
“Untuk beras SPHP bisa dijangkau dengan harga Rp60.000 per karung berat 5 kilogram saat kegiatan pasar murah, sedangkan kalau di Bulog dan di agen penjualan sesuai ketentuan 5 kilogram harganya Rp65.000,” katanya.
Bulog Papua juga akan berkolaborasi dengan berbagai pihak, terutama instansi teknis seperti Satgas Pangan Polda Papua, Dinas Pertanian, serta Dinas Perindagkop, guna melakukan pengawasan stabilitas harga dan stok bahan pangan di lapangan.

Selain beras, Mustari juga menyinggung soal distribusi minyak goreng merek Minyakita yang mengalami keterlambatan pengiriman dari produsen di Jawa Timur.
Menurutnya, pengiriman sebanyak 513 liter yang seharusnya tiba sejak Januari 2026 hingga kini belum masuk ke Jayapura dan dijadwalkan tiba pada 27 Februari 2026.
“Memang ada keterlambatan dalam pengiriman melalui kontainer ke Jayapura oleh produsen dengan jumlah sekitar 513 liter sejak bulan Januari 2026 lalu. Dan hingga kini belum tiba dan rencana akan masuk tanggal 27 Februari 2026 mendatang,” ungkapnya.
Saat ini, stok Minyakita di gudang Bulog dalam kondisi kosong. Bulog pun melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke 20 outlet atau agen penjual Minyakita di Jayapura untuk memastikan harga sesuai ketentuan.
Harga eceran tertinggi (HET) Minyakita ditetapkan sebesar Rp15.700 per liter. Namun, dalam sidak ditemukan masih ada penjualan seharga Rp16.000 per liter dengan alasan tidak tersedia uang kembalian.
“Minyak goreng sesuai HET Rp15.700 per liter, namun pada saat sidak ditemukan Minyakita dijual dengan harga Rp16.000 per liter dengan alasan tidak ada kembalian uang receh, dan sudah diingatkan bahwa hal tersebut tidak dibenarkan sehingga harus dijual sesuai HET yang berlaku,” tegasnya.
Terkait distribusi ke wilayah pegunungan Papua, Mustari memastikan pengiriman tetap berjalan, khususnya ke ibu kota provinsi di Jayawijaya. Meski faktor keamanan menjadi perhatian, koordinasi dengan aparat keamanan terus dilakukan demi kelancaran distribusi.
“Memang untuk wilayah pegunungan Papua faktor keamanan yang jadi perhatian, namun tetap berkoordinasi dengan pihak keamanan terkait pendistribusian dan pengawasan di lapangannya,” ucapnya.
Dengan kesiapan stok beras dan pengawasan distribusi bahan pangan, Bulog Papua optimistis stabilitas harga dan pasokan kebutuhan pokok selama Ramadan hingga Lebaran 2026 dapat terjaga dengan baik.
(Melviandres Pamanggori – Redaksi DA)





Apa komentar anda ?