JAYAPURA, Nokenlive.com – Asosiasi Peternak Ayam Petelur se-Tanah Tabi (APTT) meminta Pemerintah Provinsi Papua segera mengendalikan bahkan menghentikan pasokan telur ayam dari luar Papua. Permintaan tersebut disampaikan karena produksi telur lokal saat ini mengalami surplus, sehingga dikhawatirkan pasokan dari luar akan mengganggu penyerapan hasil peternak di pasar.
Sekretaris APTT Wilayah Tabi, Aris, mengatakan, permintaan itu bertujuan melindungi peternak lokal agar produksi telur yang dihasilkan tidak menumpuk di kandang akibat membanjirnya pasokan dari luar daerah.
“Kami berharap Pemerintah Provinsi Papua mengambil langkah untuk mengendalikan pasokan telur dari luar Papua sehingga hasil produksi peternak lokal tetap terserap pasar,” kata Aris saat memberikan keterangan pers di Jayapura, Kamis (16/7/2026).
Ia menjelaskan, APTT saat ini menaungi 110 peternak ayam petelur yang tersebar di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Keerom, dan Sarmi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 90 peternak masih aktif berproduksi.
Menurut Aris, total populasi ayam petelur di wilayah Tanah Tabi mencapai 647.821 ekor dari kapasitas kandang sebanyak 831.433 ekor.
Sementara itu, populasi ayam petelur di wilayah Biak, Kepulauan Yapen, Supiori, dan Waropen mencapai 106.461 ekor, sehingga total populasi ayam petelur di Provinsi Papua saat ini mencapai 754.282 ekor.
Dengan tingkat produksi rata-rata sekitar 75 persen, peternak lokal mampu menghasilkan sekitar 565.712 butir telur setiap hari. Angka tersebut melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat di Provinsi Papua yang ditambah sekitar 60 persen kebutuhan Papua Pegunungan, yakni sekitar 430.641 butir per hari.
“Artinya masih terdapat surplus produksi sekitar 135.071 butir telur per hari. Berdasarkan neraca pangan Dinas Pangan pada Juni 2026, komoditas telur juga berada dalam kondisi surplus. Ini menunjukkan Papua sudah mampu memenuhi kebutuhan telur dari produksi lokal,” ujarnya.
Karena itu, APTT meminta Pemerintah Provinsi Papua, khususnya Gubernur Papua, segera menghentikan pasokan telur dari luar daerah, termasuk dari Surabaya, sebagai bentuk perlindungan terhadap peternak lokal sekaligus mendukung program swasembada pangan yang menjadi salah satu visi pembangunan daerah.
Aris menilai, pembatasan pasokan telur dari luar akan memberikan kepastian pasar bagi peternak lokal, menjaga stabilitas harga, serta mendorong keberlanjutan usaha peternakan ayam petelur di Papua.
(Agustina Estevani Janggo/Redaksi)





Apa komentar anda ?