JAYAPURA, NOKENLIVE.com – Pelaksanaan Operasi Keselamatan 2026 yang digelar selama 14 hari di wilayah Papua mencatat sebanyak 5.112 teguran kepada pengendara. Pendekatan persuasif menjadi strategi utama yang dikedepankan jajaran Direktorat Lalu Lintas Polda Papua.
Direktur Lalu Lintas Polda Papua, Kombes Pol Indra Kurniawan Mangunsong, menegaskan bahwa penindakan selama operasi lebih difokuskan pada upaya edukatif dibandingkan represif.
“Kalau kegiatan kita itu teguran. Tahun ini sekitar 5.112 teguran yang kami keluarkan. Untuk tilang hanya 135, dan itu pun bukan penindakan langsung di jalan, melainkan hasil operasi yang dipimpin secara operasional,” ujar Indra di Jayapura, Kamis (19/2/2026).
Dari sisi angka kecelakaan, Indra menyebut terjadi penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada 2025 tercatat 49 kejadian kecelakaan lalu lintas, pada Operasi Keselamatan 2026 jumlah tersebut turun menjadi 45 kejadian.
“Tahun lalu ada 49 kejadian, sekarang turun menjadi 45 kejadian,” katanya.
Namun demikian, jumlah korban meninggal dunia justru mengalami peningkatan. Tahun lalu tercatat satu orang meninggal dunia, sementara tahun ini meningkat menjadi lima orang. Korban luka berat juga naik dari 24 orang menjadi 28 orang, sedangkan korban luka ringan bertambah tiga orang dibandingkan periode sebelumnya.
Indra menjelaskan, Operasi Keselamatan tahun ini juga difokuskan pada angkutan umum sebagai bagian dari persiapan menjelang Operasi Ketupat 2026. Langkah tersebut dilakukan mengingat keterbatasan transportasi darat di Papua.
Ia menilai, jalur antarkabupaten yang aktif seperti Jayapura–Sentani masih relatif terjangkau. Namun, untuk wilayah lain seperti Sarmi, perjalanan darat dapat memakan waktu hingga delapan jam.
“Karena itu sasaran utama kami adalah angkutan umum yang akan digunakan saat arus mudik Lebaran nanti,” ujarnya.
Pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat untuk melakukan pengecekan kendaraan lebih awal sebelum digunakan untuk mudik, guna memastikan kelayakan dan keselamatan selama perjalanan.
Kombes Pol Indra Mangunsong mengakui, pelaksanaan operasi selama dua pekan belum tentu langsung menciptakan ketertiban berlalu lintas secara menyeluruh.
“Dengan adanya operasi, paling tidak kita bisa menyadarkan masyarakat. Tapi kalau untuk langsung tertib secara menyeluruh, itu agak sulit karena operasinya terbatas waktunya,” kata dia.
Ia menambahkan, penegakan hukum semata tidak menjamin pelanggaran lalu lintas tidak akan terulang apabila tidak dibarengi kesadaran pribadi dari setiap pengguna jalan.
Terkait rencana Operasi Ketupat 2026, Indra memperkirakan pelaksanaannya akan berlangsung selama 16 hari, dimulai sekitar satu minggu sebelum Hari Raya Idul Fitri hingga beberapa hari setelahnya. Namun, jadwal tersebut masih menyesuaikan kebijakan nasional dan mempertimbangkan masa libur sekolah.
Jika masa libur sekolah diperpanjang, kemungkinan pelaksanaan operasi bisa dimulai lebih awal.
Indra juga menekankan pentingnya menjaga kerukunan menjelang perayaan Idul Fitri, mengingat umat Muslim di Papua merupakan minoritas.
“Harapan kami, kerukunan umat beragama tetap terjaga. Kalau memang tidak perlu, kegiatan yang berpotensi menimbulkan gesekan seperti konvoi takbiran sebaiknya diantisipasi,” ujarnya.
Ia memastikan jajaran kepolisian siap mengamankan seluruh rangkaian kegiatan Lebaran agar berlangsung aman, tertib, dan kondusif di Papua. (Melviandres Pamanggori – Redaksi DA).





Apa komentar anda ?