NABIRE, NOKENLIVE.COM – Redaktur Senior Tempo, Sunudyantoro, mendorong jurnalis di Tanah Papua untuk secara konsisten memproduksi karya jurnalistik investigatif setidaknya sekali atau dua kali dalam setahun. Menurutnya, liputan investigatif merupakan bentuk karya jurnalistik tertinggi yang mampu memberi dampak besar bagi publik.
Hal tersebut disampaikan Sunudyantoro usai menjadi narasumber dalam workshop bertajuk “Investigasi di Papua: Tantangan Khusus dan Cara Mengatasinya”, yang digelar dalam rangka Festival Media Se-Tanah Papua Perdana di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, Kamis (15/1/2026).
“Buat saya investigasi itu adalah karya tertinggi dari jurnalis. Saya mendorong kawan-kawan di manapun termasuk di Papua ini agar setidaknya dalam setahun atau dua tahun sekali membuat karya jurnalistik berupa liputan investigatif,” ujar Sunudyantoro.
Festival Media Se-Tanah Papua yang diinisiasi Asosiasi Wartawan Papua (AWP) ini berlangsung selama tiga hari, 13–15 Januari 2026, dan dihadiri 149 jurnalis dari enam provinsi di Tanah Papua, serta pelajar dan mahasiswa. Para peserta berasal dari berbagai organisasi profesi jurnalistik seperti AJI, PWI, dan asosiasi lainnya.
Sunudyantoro mengakui bahwa liputan investigatif bukan pekerjaan mudah karena membutuhkan biaya besar serta memiliki risiko tinggi bagi jurnalis. Namun demikian, ia menilai tantangan tersebut dapat diatasi melalui kolaborasi antar media, khususnya media-media yang berbasis di Papua.
“Bahkan kalau memungkinkan, media-media di Papua menggandeng kawan-kawan di tingkat nasional di Jakarta. Dalam pengalaman saya, ketika dokumennya kuat, kita akan kerjakan betul-betul sama-sama,” jelasnya.

Workshop yang dimoderatori Krist Ansaka dan Dominggus Mampioper tersebut juga menekankan pentingnya liputan mendalam dan penulisan feature lengkap sebagai alternatif bagi media yang belum memiliki rubrik investigasi khusus.
Selain aspek substansi jurnalistik, Sunudyantoro turut mengapresiasi penyelenggaraan festival yang dinilainya sederhana namun sarat makna. Menurutnya, keterbatasan fasilitas tidak menghalangi semangat dan kualitas kegiatan.
“Festival media se-Tanah Papua ini sangat bagus dan keren. Mereka tidak terhalangi fasilitas hotel atau gedung ber-AC. Cukup dengan tenda dan terpal, mereka bisa menyelenggarakan festival media,” katanya.
Ia menilai festival ini menjadi ruang konsolidasi penting bagi jurnalis Papua, terutama dalam menghadapi berbagai bentuk tekanan represif, baik dari pemerintah lokal maupun nasional. Forum ini juga dianggap strategis untuk meningkatkan mutu karya jurnalistik melalui diskusi dan komunikasi yang berkelanjutan.

“Dengan sering bertemu seperti ini, teman-teman di daerah lain tidak merasa ditinggalkan. Komunikasi dan konsultasi terbangun. Saya yakin setiap upaya konsolidatif akan menghasilkan hal-hal positif, baik dalam hal karya maupun membangun platform untuk menghadapi tekanan dari kekuasaan,” pungkasnya.
Selama tiga hari pelaksanaan, Festival Media Se-Tanah Papua menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari workshop jurnalisme lingkungan, pelatihan jurnalistik investigasi, talk show, pameran foto, hingga malam penganugerahan Papua Jurnalistik Award 2026.
Festival ini menjadi tonggak awal penguatan jejaring, kapasitas, dan solidaritas jurnalis di Tanah Papua dalam mendorong praktik jurnalistik yang independen, kritis, dan berpihak pada kepentingan publik.
Penulis: Hubertus Gobai






Apa komentar anda ?