Jayapura, NOKENLIVE.COM – Ketua I Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Dogiyai, Vitalis Kegiye, bersama tokoh intelektual Andy Gobai, melakukan kunjungan ke Kepala Biro Pemerintahan Otonomi Khusus (Otsus) dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Provinsi Papua Tengah, Lambertus Wakerkwa, pada Selasa (11/11/2025).
Kunjungan tersebut bertujuan untuk mendengarkan secara langsung maksud, tujuan, dan sasaran pelaksanaan Lomba Sayembara Noken Papua, yang akan digelar oleh Pemerintah Provinsi Papua Tengah pada 13 November 2025 mendatang.
Ketua I DPRK Dogiyai menyampaikan bahwa kedatangan mereka merupakan bentuk perhatian dan dukungan terhadap kegiatan pemerintah dalam upaya pelestarian budaya. “Tujuan kami datang adalah untuk mendengarkan maksud, tujuan, serta sasaran pelaksanaan Lomba Sayembara Noken yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Papua Tengah pada tanggal 13 November 2025 nanti,” ujar Vitalis Kegiye kepada Nokenlive.com.
Kedatangan Vitalis Kegiye dan Andy Gobai disambut langsung oleh Kepala Biro Pemerintahan Otsus dan Kesra Papua Tengah, Lambertus Wakerkwa, yang menyampaikan sejumlah hal penting terkait kegiatan tersebut.
Lambertus mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas kunjungan tersebut. Ia menegaskan bahwa budaya Noken Papua telah diakui dan dilegalkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan hal itu menjadi kebanggaan besar bagi masyarakat Papua. “Budaya Noken Papua sudah diakui oleh PBB, ini kebanggaan bagi kami orang Papua, sehingga perlu dilestarikan dan dipertahankan dengan baik,” katanya.
Lebih lanjut, Lambertus menjelaskan bahwa setiap suku di Papua memiliki ciri khas Noken tersendiri. Ia mencontohkan bahwa suku-suku di pesisir pantai, Moni Wolani, Dani/Lani, Amungme, Kamoro, hingga Mee — termasuk jenis Noken Anggrek — masing-masing memiliki keunikan dan karakter khasnya. “Noken dari masing-masing suku bangsa juga memiliki klasifikasi tersendiri. Oleh karena itu, baik pemerintah maupun masyarakat harus bersama-sama menjaga Noken sebagai warisan budaya dunia dari Tanah Papua,” ujarnya.
Lambertus juga memberikan peringatan keras terhadap praktik modifikasi Noken Papua yang dilakukan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Ia menegaskan bahwa segala bentuk modifikasi yang merusak nilai budaya Noken tidak boleh terjadi di Provinsi Papua Tengah. “Kita sama-sama menjaga dan melarang keras segala modifikasi Noken Papua. Praktik seperti itu tidak boleh terjadi di Papua Tengah. Kita sudah lihat dan belajar dari kasus kebakaran mahkota burung cenderawasih di Jayapura yang viral dan menjadi perhatian banyak orang. Hal seperti itu tidak boleh terjadi di Papua,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa Sayembara Noken ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk menjaga, mewarisi, dan melestarikan budaya Noken sebagai warisan dunia, sekaligus mengikutsertakan masyarakat dari berbagai kalangan di Papua Tengah. “Kegiatan sayembara ini adalah bagian dari kerja nyata pemerintah untuk melestarikan budaya Noken, dan kami juga melibatkan masyarakat dari berbagai kelompok,” jelasnya.
Selain fokus pada Noken, Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga sedang mendorong pelestarian budaya makanan lokal, sebagai upaya memperkuat identitas budaya Papua. “Semua ini adalah bagian dari usaha mempertahankan budaya dengan kerja-kerja nyata,” tambah Lambertus.
Ia memastikan bahwa dirinya akan mengontrol dan mengawasi secara langsung pelaksanaan Sayembara Noken dan Lomba Memasak Makanan Lokal Papua Tengah yang akan berlangsung pada 13 November 2025.
Menutup pertemuan, Lambertus menyampaikan apresiasi kepada perwakilan DPRK Dogiyai dan tokoh intelektual yang telah memberikan saran dan masukan konstruktif. “Atas nama Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Biro Pemerintahan Otsus dan Kesra menyampaikan terima kasih atas kedatangan dan masukan positif dari tokoh intelektual serta pimpinan DPRK Kabupaten Dogiyai,” ucapnya. (Hubertus Gobai-Redaksi-DA)







Apa komentar anda ?