WAMENA, NOKENLIVE.COM — Situasi di Kabupaten Yalimo kini kembali aman dan kondusif pasca-insiden pelemparan batu yang menyebabkan ditundanya agenda Doa Rekonsiliasi pada 3 Oktober 2025. Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dan Pemerintah Kabupaten Yalimo menegaskan komitmen bersama untuk melanjutkan proses rekonsiliasi sosial demi membangun masa depan yang damai dan bermartabat.
Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Dr. Ones Pahabol, menerima kunjungan resmi dari Bupati Yalimo, Dr. Nahor Nekwek, M.M., di Wamena. Kunjungan ini dilakukan untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung dari pemerintah dan masyarakat Yalimo, serta membahas strategi rekonsiliasi lanjutan.
Dalam pertemuan pada Sabtu (4/10/2025), kedua pimpinan daerah menyampaikan keprihatinan atas insiden yang terjadi. Mereka sepakat bahwa rekonsiliasi bukan sekadar agenda seremonial, tetapi merupakan proses spiritual dan sosial yang harus melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh adat, gereja, pemuda, dan keluarga.
Wakil Gubernur Ones Pahabol menegaskan bahwa rekonsiliasi harus dilandasi nilai-nilai iman, moral, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Ia juga mengingatkan pentingnya pendidikan karakter bagi generasi muda Papua Pegunungan, yang tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau gereja, tetapi juga keluarga sebagai pilar utama pembentukan moral.
“Rekonsiliasi harus dibangun atas dasar firman Tuhan, tanpa gesekan, tanpa ejekan, dan tanpa tindakan yang melukai,” ujar Pahabol.
“Jika saya sebagai Wakil Gubernur tidak diterima, saya bisa mengundurkan diri. Tapi jika Tuhan tidak boleh hadir, itu tidak bisa diterima. Ini menunjukkan bahwa pembinaan kita masih kurang dan harus diperbaiki,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Yalimo, Dr. Nahor Nekwek, memastikan bahwa situasi telah sepenuhnya terkendali. Ia menjelaskan bahwa insiden pelemparan batu disebabkan oleh miskomunikasi teknis antara panitia pelaksana, yang kemudian menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat terkait dana rekonsiliasi.
“Kami, Pemerintah Kabupaten Yalimo, menyampaikan permohonan maaf kepada Bapak Wakil Gubernur dan seluruh tim yang hadir. Kami telah merancang proses rekonsiliasi yang baik demi masa depan generasi Yalimo, termasuk tradisi bakar batu sebagai simbol perdamaian,” tegas Nahor.
Pemerintah Kabupaten Yalimo telah membentuk panitia baru yang melibatkan lima distrik, yang secara resmi menyampaikan permohonan maaf dan komitmen untuk mendukung proses rekonsiliasi. Tradisi bakar batu juga telah dilakukan sebagai bentuk pemulihan sosial dan budaya.
Pemprov Papua Pegunungan dan Pemkab Yalimo kini berfokus pada pembenahan internal dan penguatan komunikasi lintas sektor untuk memastikan agenda rekonsiliasi berjalan lancar dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Kabupaten Yalimo dinilai sebagai wilayah strategis di Pegunungan Tengah Papua, baik dari aspek pembangunan manusia maupun ekonomi. Oleh karena itu, stabilitas sosial di wilayah ini menjadi prioritas utama dalam perencanaan pembangunan provinsi dan nasional.
Dengan semangat kebersamaan, para pemimpin daerah ini menegaskan tekad untuk menjadikan Papua Pegunungan sebagai tanah damai, berkarakter, dan bebas dari segala bentuk diskriminasi. (REDAKSI-DA)





Apa komentar anda ?