NABIRE, NOKENLIVE.com- Festival Media Se-Papua tahun 2025 akan di gelar pada tanggal 6–8 Oktober 2025 dan di pusatkan di Lapangan Bandara Lama Nabire, Papua Tengah.
Festival Media Se-Papua 2025 diperkirakan akan di ikuti oleh 117 jurnalis Se-Tanah Papya, 51 organisasi pers, atau media nasional, 36 humas pemda, 26 humas DPRD, 100 mahasiswi, 100 pelajar, serta perwakilan pemprov Papua, Pemprov Papua Tengah, PT Freeport Indonesia dan mutra lainnya.
Hal tersebut resmi di umumkan langsung oleh Ketua Panitia Festival Media Se-Papua, Abeth You.
“Antusiasme peserta sangat tinggi. Bahkan kami mencatat ada lebih dari seratus jurnalis dari berbagai daerah di Tanah Papua akan hadir”, Ucap Abeth You.
Ketua Panitia, Abeth You mengatakan, festival ini diinisiasi oleh Asosiasi Wartawan Papua (AWP) dan menjadi ruang kolaborasi bagi jurnalis, praktisi media, mahasiswa, pelajar, serta pemerintah daerah.
“Festival ini adalah momentum penting agar media di Papua punya ruang kolaborasi, meningkatkan kapasitas, dan membangun kesadaran publik,” ucapnya, Sabtu (6/9/2025).
Festival akan diisi dengan beragam kegiatan, mulai dari pelatihan jurnalistik investigasi, keamanan digital, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam jurnalistik, talkshow peran media dalam pembangunan, workshop media sosial (fotografi & videografi), pameran foto dan buku jurnalis, lomba karya tulis, hingga malam penganugerahan Papua Journalist Association Award 2025.
“Kami ingin jurnalis Papua tidak hanya menulis berita, tetapi juga memiliki keterampilan investigasi, penguasaan keamanan digital, hingga pemanfaatan AI,” ungkap Abeth.
Abeth menyebutkan, sejumlah tokoh penting akan hadir sebagai pembicara.
“Festival ini menghadirkan Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa, Ketua Dewan Pers, praktisi media nasional, perwakilan PT Freeport Indonesia, dan jurnalis senior Papua,” jelasnya.
Selain itu, ada juga narasumber dari jurnalis investigasi nasional, praktisi media sosial, ahli keamanan digital dan AI, serta perwakilan lembaga negara.
Menurut Abeth, latar belakang festival ini adalah untuk menjawab tantangan kapasitas jurnalis Papua.
“Wartawan kita masih butuh ruang belajar dan pengembangan. Karena itu, festival ini menjadi tempat bertemu, berdiskusi, dan saling memperkuat,” ujarnya.
Manfaat festival ini, kata Abeth, antara lain membangun jaringan media profesional dan damai, meningkatkan kapasitas SDM lokal, mendorong narasi positif Papua di tingkat nasional dan internasional, serta memperkuat hubungan media dengan Pemda.
“Dampak jangka panjang yang kami harapkan adalah lahirnya ekosistem media yang berdaya, aman, inklusif, dan dipercaya publik di Papua,” pungkasnya. (Lisa/Fredik)







Apa komentar anda ?