JAYAPURA,NOKENLIVE.com- Jaringan Survei Independen (JSI) melakukan survei, terkait pelaksanaan pemilihan ulang (PSU) pilkada gubernur dan wakil gubernur Provinsi Papua yang akan berlangsung pada 6 Agustus 2025.
Survei yang dilakukan oleh JSI ini terhitung pada 1-14 Juli 2025 dengan responden yang tersebar di 9 kabupaten/kota. Koresponden dilakukan secara acak, baik petani, nelayan, PNS/ASN, mahasiswi hingga para pelajar yang akan menjadi pemilih pemula pada PSU Pilgub Papua.
Survei ini dilakukan kepada pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur, baik paslon nomor urut 1 Benhur Tomi Mano-Constant Karma (BTM-CK) dan paslon nomor urut 2 Matius Derek Fakiri-Aryoko Rumaropen (MARI-YO).
Baca juga: Jelang PSU Pilgub, Ini Pesan Ketua KPU Papua Buat 4.025 Anggota KPPS Se- Kota Jayapura
“Dari hasil survei ini ada 20,3 persen yang kami temukan belum menentukan piihannya. Mereka in merupakan penentu kemenangan pada PSU Pilgub Papua,” ungkap Direktur JSI, Hari saat menyampaikan hasil survei di salah satu hotel di Jayapura, Papua, Rabu (16/7/2025) malam.
Menurut Hari, dalam penentukan koresponden ini diukur dari presentasi usia terbesar, dimana pemilih pemula atau Gen Z ini kurang lebih 30 persen atau sekitar 150-200 ribu dalam PSU Pilgub Papua mendatang.
“Dari 30 persen pemilih pemula atau Gen Z ini adalah mereka yang belum menentukan pilihan,” jelasnya.
Baca juga: Ketua DPRD Kota Harapkan Pj Gubernur Papua Membangun Sinergi untuk Mensukseskan PSU Pilgub Papua
Sudah Tidak Peduli dan Apatis
Hari menambahkan, dari hasil survei, pihaknya di JSI menemukan koresponden yang sudah tidak peduli lagi dengan PSU Pilgub Papua, karena cuek dan apatis.
“Jadi pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) untuk pelaksanaan PSU Pilgub Papua, bukan menambah siapa pemenang Pilgub Papua, tetapi justru menurun antusias pemilih untuk menentukan pilihannya,” ujarnya.
Kata Hari, memang butuh keterlibatan semua pihak, baik pemerintah provinsi, kabupaten/kota, penyelenggara pemilu (KPU dan Bawaslu) untuk bekerja keras, namun disisi lain letak geografis Papua, keterbatasan anggaran dan keterbatasan waktu menjadi salah satu faktor penghabat dalam PSU Pilgub Papua.
Baca juga: KPU Papua: Proses Distribusi Logistik Pemilu Tetap Perhatikan Perubahan Cuaca di Papua
“Yang 20 persen ini mereka lebih dominan apatis terhadap PSU Pilgub Papua,” katanya.
Hari menyebutkan 20,3 persen yang belum menentukan pilihan dan apatis ini menjadi peluang bagi paslon nomor urut 1 dan paslon nomor urut 2 untuk merangkulnya, sehingga memiliki peluang kemenangan pada pemilihan 6 Agustus mendatang.
“Bagi paslon nomor 1 dan paslon nomor 2 bagaimana caranya dia merangkul yang apatis terhadap PSU,” ujarnya.
Baca juga: Sebulan Menjelang PSU, Mendagri Ganti Pj Gubernur Papua Ramses Limbong Dengan Agus Fatoni
Kemungkinan Kecil Gugat ke MK
Hari menyampaikan, kecil kemungkinan PSU Pilgub Papua pada 6 Agustus 2025 mendatang digugat lagi ke Mahkamah Konstitusi (MK), lantaran partisipasi pemilih rendah.
“Ada dua poin, kenapa agak susah dibawa ke ranah MK PSU Pilgub Papua, dimana pertama karena partisipasi rendah dan kedua masing-masing pemilih sudah mempunyai pemilih masing-masing dan agak sulit untuk berpindah,” ungkapnya.
Menurut Hari, paslon nomor urut 1 dan paslon nomor urut 2 sudah memiliki pemilihnya masing-masing, sehingga sulit berpindah, kecuali ada alat paksa transaksional menggunakan “uang”.
Baca juga: Pastikan Situasi Kamtibmas Jelang PSU Pilgub Papua, Kapolda Papua Kunjungan Kerja di Kepulauan Yapen
“Paslon nomor urut 1 dan nomor urut 2 memiliki peluang yang sama, bagaimana caranya merangkul 20,3 persen yang apatis terhadap PSU,” tuturnya.
Dia menyatakan, kemungkinan kecil PSU akan digugat lagi ke MK pasca pemilihan pada 6 Agustus mendatang. Meski demikian, partisipasinya rendah.
“Lebih kondusif dibandingkan pilkada serentak pada 27 November 2024. PSU ini akan lebih kondusif, karena koresponden ada yang sudah acuh dan tak peduli terhadap hasil PSU, lebih kepada transaksional,” jelasnya.
“Jika ada gugatan dari salah satu paslon atas hasil PSU nanti, potensi ini ada, tetapi presentasinya kecil,” tutupnya. (Redaksi NL/Fredik)





Apa komentar anda ?