BIAK,NOKENLIVE.com- Festival Biak Munara Wampasi menampilkan atraksi budaya Biak, yakni Apen Beyeren atau jalan di atas batu panas tanpa alas kaki yang berlangsung di Sanggar Lanud Manuhua Biak Numfor, Papua, Selasa (1/7/2025) malam.Ratusan wisatawan dan masyarakat dibuat takjub dengan atraksi Apen Beyeren, dimana beberapa orang asli Biak berjalan di atas batu panas secara bergantian.
Kordinator Kegiatan atraksi Apen Beyeren, Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor Reinhard mengatakan, Atraksi Apen Beyeren dilakukan oleh tim dari Sanggar Tari Insoraki dari Kampung Wosnaibraidi Distrik Yawosi Biak Utara, Kabupaten Biak Numfor.
Reinhard menambahkan, atraksi Apen Beyeren merupakan tradisi budaya Suku Biak. Tradisi yang dilakukan turun temurun ini hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu.
“Jadi kalau orang tua yang bisa lakukan atraksi Apen Beyeren, akan di turunkan lagi ke anaknya. Khusus untuk pawangnya ada Frans Rumbrapuk, bagian atraksi ada Yunus, dan lainnya yang masih keturunan dari keluarga itu,” jelasnya.

Dia menjelaskan, Apen Beyeren biasanya hanya dilakukan dalam acara tertentu, yaitu saat pihak keluarga laki-laki dan pihak keluarga perempuan membuat acara bakar batu, guna memberi makan dari pihak keluarga perempuan. Dimana sebelum memberikan makan, pihak keluarga laki-laki harus melewati batu yang panas tersebut.
Dengan begitu, jika tidak ada sesuatu atau persoalan yang mengganggu, pasti semua bisa berjalan dengan baik, mulus dengan seorang pawang yang diberikan kepercayaan mengurus jalannya prosesi adat tersebut.
Dilakukan Turun Temurun
“Apen” itu istilahnya adalah bakar batu. Atraksi ini sudah ada secara turun temurun dan hanya bisa dilakukan oleh orang tertentu, tidak srmua orang bisa lakukan aktrasi tersebut.
“Dengan melewati sesi adat tersebut dan hasilnya tidak ada masalah, maka hubungan kedua belah pihak keluarga, baik pihak keluarga laki-laki dan pihak keluarga perempuan akan semakin erat,” ujar Reinhard.
Kata Reinhard, untuk persiapannya dilakukan dalam kegiatan FBMW, khususnya aktraksi Apen Beyeren diserahkan semuanya kepada tim dari Sanggar Insoraki. Panitia hanya tahu terima bersih. Sebab, mereka tim yang lebih tahu jenis batu dan kayu apa yang bagus untuk bakar batu. Karena durasi bakar batu hanya 1 jam jika kayunya bagus.
“Kami (panitia) menghubungi pihak dari Sanggar Insoraki dari Distrik Yawosi, Kampung Wosnabraidi Biak Utara. kami komunikasi untuk mengetahui berapa pembinaannya, kita tinggal terima bersih. Jadi kayu dan batu semua disiapkan oleh tim sanggar,” ujarnya.

Sementara itu, Pawang Atraksi Apen Beyeren Frans Yakob Rumbrapuk mengaku ada ritual khusus yang dilakukan sebelum melakukan atraksi Apen Beyeren. Salah satunya pada awal dilakukan tarian Wor.
“Ta, 1 hari sebelum pentas, hingga hari H pun ada ritual khusus yang dilakukan untuk minta kekuatan dan juga cuaca yang baik. Pada saat awal pun ada tarian Wor yang disebut dou beba dan dou samabraf. Lanjutnya, tarian Wor itu artinya doa kepada Tuhan, agar diberikan kekuatan,” jelasnya.
Selain itu, kata Frans ada juga daun yang disiapkan, dalam bahasa Biak nama daun tersebut adalah daun sandia. Daun sandia di isi di tempat atau wadah seperti botol atau toples dan di isi air untuk di minum juga untuk membasuh kaki orang yang akan melakukan atraksi berjalan di atas batu panas.
Tidak hanya itu, walau sempat di guyur hujan, namun percaya tidak percaya, setiap atraksi Apen Beyeren dilakukan dipastikan tidak akan turun hujan. Sedangkan, untuk cuaca pun ada ritual khusus, agar diberikan cuaca yang baik.
“Ya ada, ada ritual khusus. Tadi sempat hujan tapi berhenti. Itu ada lihat bapa Frans tadi ada doa minta-minta cuaca baik,” ungkapnya. (Lisa/Fredik)





Apa komentar anda ?