Jayapura,Nokenlive.com—Terkait kondisi Papua dalam akhir-akhir ini terus menjadi sorotan public. Berawal dari peristiwa rasis di Surabaya, Malang dan Makassar, kian tengah meluas di Papua dengan aksi demontrasi yang selama ini belum pernah terjadi dibelahan dunia.
Aksi demontrasi yang dilakukan kalangan masyarakat di Papua, kelak akan tercacat dalam sebuah dokumen sejarah. Karena, demontrasi yang dilakukangan masyarakat tersbeut sangat luar biasa sehingga kerugian pasca demontrasi juga luar biasa.
Oleh karena itu, untuk pengamana kondisi di Papua, Negara menambah pasukan TNI/POLRI di Papua hingga mencapai ratusan ribuh personil. Padahal, tenaga dari Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) bisa manfaatkan anggotanya untuk mengamankan kondisi Papua, namun penambahan terus dilakukan sehingga sering menjadi pertanyaan besar, ada apa dibalik itu?
Menagggapi kondisi di Papua Ketua DPR Papua Dr. Yunus Wonda, SH,.MH mengatakan terlalu banyak anggota TNI/POLRI yang hadir di Papua akan menakuti masyarakat Papua.
“Iya, menurut saya, ini sesuatu yang luar biasa. Karena belum pernah terjadi selama ini dan akan tercatat dalam sejarah. Kapolri dan Panglima TNI pun hadir berkantor di Papua. Padahal, disini ada Kalolda dan Pangdam yang bisa menangani masalah kondisi di Papua saat ini dan masyarakat Papua mengalami ketakutan yang amat luar biasa karena kehadiran TNI/Polri di Papua,”ujar Yunus Wonda Kepada wartawan Selasa, (3/9/2019) kemarin.
Terkait itu, Wonda menjelaskan bahwa Kapolda Papua dan Pangdam mampu mengamankan kondisi di Papua selama ini dan menurutnya, kondisi di Papua sudah aman.
“Saya pikir terlalu banyak penambahan pasukan di Papua, semakin membuat ketakutan pada masyarakat. Padahal, kan selalu terbukti bahwa mereka (Kapolda dan Pangdam) selalu membuat Papua aman koo. Kenapa sampai Negara mengirim pasukan terus di Papua,”katanya.
Terkait hal itu, Yunus Wonda mengatakan bahwa untuk mengantisipasi ketakutan masyarakat di Papua dan untuk Papua menuju perdamaian, tidak ada lagi aksi demontrasi dari pihak mana pun.
“Kami tahu pasti bahwa aksi demo yang digelar ini bukan murni. Yang menurut kami murni adalah aksi demontrasi yang digelar pertama kali tetapi demo yang berikut ini bukan murni,”jelas Wonda.
Aksi demontrasi yang digelar pada pertama kali, pihaknya belum sampaikan aspirasinya, namun pihak Pemprov Papua sudah sampaikan maksud dari aksi tersebut kepada Presiden RI sebab sementara sedang menunggu respon dari Pempus.
“Kami sudah sampaikan maksud dan tujuan aksi masyarakat Papua kepada Presiden RI namun sementara kami belum mendapat jawaban dari Presiden. Oleh karena itu, Wonda meminta seluruh masyrakat yang ada di Papua kembali membangun kebersamaan antara sesama agar tetap damai dan kondisi Papua kembali kondusif,”harapnya.
(Thiand)





Apa komentar anda ?