Jayapura, Nokenlive.com – Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI bekerja sama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura,untuk menggelar forum dialog yang bertemahkan “Merawat Kebinekaan melalui Literasi Media
Dialog berlangsung di gedung Sian Soor, kantor Wali Kota Jayapura, Kamis (15/11/2018),dan dibuka secara resmi oleh Direktur Pengelola Media Dirjen IKP Kominfo Pusat, Siti Meiningsih yang diwakili tim ahli Freddy H. Tulung
Pancasila sebagai dasar negara dipandang mampu menjadi alat pemersatu dan perjuangan bangsa dari masa ke masa.
Bahkan saat ini, nilai-nilai Pancasila dapat menjadi acuan dalam mengatasi penyebaran hoaks di era digital ini.
“Dengan melihat kondisi negara kita bahwa kebinekaan berangkat dari 4 patokan utama kehidupan berbangsa dan bernegara diantaranya Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika,” demikian disampiakan Direktur Pengelola Media Dirjen IKP Kominfo Pusat, Siti Meiningsih dalam sambutan disampaikan Freddy H. Tulung, saat membuka forum dialog tersebut.
Dikatakan, pada perkembangan dunia saat ini media memainkan peranannya yang sangat signifikan. Bahkan media saat ini mampu menembus keterbatasan dimensi ruang dan waktu, serta hadir di mana saja, kapan saja dan menghadapi siapa saja.
“Olehnya itu, empat prinsip atau patokan utama ini harus kita pegang dalam kehidupan berbangsa bernegara,” cetusnya.
Lanjut Siti, merawat kebhinekaan merupakan proses yang dinamis.
“Karena kalau kita bisa merawat kebhinekaan dengan baik maka tentu akan menjadi satu kekuatan namun jika kita alpa dan lengah maka justru akan menjadi unsur untuk menghancurkan persatuan dan kesatuan kita,” tegasnya.
Kemenkominfo berharap forum dialog ini minimal bisa membawa sedikit pencerahan bagi adik-adik mahasiswa serta pelajar para pemuda agar dalam menghadapi perubahan ke depan telah lebih dahulu menyiapkan diri.
Plh Sekda Kota, Evert Meraudje saat membacakan sambutan Wali Kota DR. Benhur Tomi Mano, MM mengatakan, Kota Jayapura merupakan barometernya Indonesia, dimana semua suku bangsa dari Sabang sampai Merauke hidup berdampingan dan saling menghargai di antara suku yang satu dengan yang lainnya.
Begitu pula, keberagaman agama dan budaya tidak mempengaruhi kehidupan sehari-harinya.
Untuk itu, literasi media dibangun karena semakin pesatnya gempuran informasi yang tidak diimbangi dengan kecakapan mengonsumsinya.
“Karena itu, dibutuhkan budaya baru untuk mengonsumsinya secara sehat,” urainya.
Lebih lanjut dirincikan, literasi media adalah kemampuan membaca atau menulis serta kemampuan memberitakan sesuatu.
Dalam arti, kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi informasi yang dibutuhkan, mengakses dan menemukan informasi, mengevaluasi dan menggunakan secara efektif dan efisien.
Sementara proses demokratisasi di Indonesia menempatkan publik, sebagai pemilik dan pengendali utama dalam menjalankan fungsi pelayanan yang sehat.
“Melalui media yang begitu bebas dan begitu mudahnya kita mengaksesnya, serta memberitakannya sehingga memicu lahirnya informasi hoax atau tak akurat bahkan sampai pada informasi yang berbau pornografi dan sara pun bisa diakses di tangan kita semua,” tegasnya.
Turut hadir pada momen tersebut, pimpinan OPD lingkup Pemkot Jayapura, Ketua LMA Port Numbay George Awi, serta Ondoafi Waena Ramses Ohe.
Sementara peserta forum dialog terdiri dari siswa/i SMA dan SMK, pemuda dan komunitas. (ARC)





Apa komentar anda ?