PANIAI, Nokenlive.com – Bupati Paniai, Yampit Nawipa, menegaskan komitmennya memperkuat ekonomi masyarakat lokal, khususnya mama-mama Papua yang berjualan pangan lokal di Enarotali, ibu kota Kabupaten Paniai.
Kebijakan tersebut diarahkan agar hasil pertanian dan pangan lokal yang dijual masyarakat dapat terserap dengan baik sehingga para pedagang tidak lagi membawa pulang dagangan yang tidak laku.
Bupati Paniai, Yampit menjelaskan, kebijakan tersebut lahir dari pengalaman dan pengamatannya terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Sebelum menjadi bupati, ia mengaku pernah bekerja sebagai tukang ojek dan sering melihat langsung perjuangan mama-mama yang berjualan di pasar.
“Dulu saya ojek, saya melihat mama-mama setelah jualan tidak ada yang laku, akhirnya jualan mereka dibawa pulang. Saya berpikir, sekarang saya menjadi bupati, bagaimana supaya kebijakan pemerintah bisa langsung dirasakan masyarakat,” kata Yampit.
Ia menegaskan, seluruh warung dan pelaku usaha di Paniai diharapkan mengikuti edaran pemerintah daerah untuk mendukung kebijakan pangan lokal.
Menurutnya, kebijakan tersebut bukan untuk merugikan pemilik warung maupun pedagang, tetapi mendorong perputaran ekonomi agar manfaatnya juga dirasakan masyarakat lokal.
Bantah Isu Nasi Sitaan Berkaitan dengan MBG
Bupati Yampit juga membantah informasi yang menyebut nasi yang sebelumnya disita pemerintah daerah merupakan bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Ada yang memainkan isu bahwa nasi yang kita sita kemarin itu MBG. Itu tidak benar. Nasi yang kita ambil berasal dari warung-warung dan sudah kita bayar, jadi tidak ada yang dirugikan,” tegasnya.
Ia meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak sesuai dengan fakta terkait kebijakan pemerintah daerah tersebut.
Kamis Jadi Hari Pangan Lokal
Sebagai bagian dari kebijakan tersebut, Pemerintah Kabupaten Paniai menetapkan setiap hari Kamis sebagai momentum untuk memasak dan mengonsumsi pangan lokal.
Yampit mengatakan, kebijakan ini juga bertujuan menghidupkan kembali budaya pangan masyarakat Paniai yang sejak dahulu mengandalkan hasil pertanian lokal seperti ubi dan pisang.
“Tidak ada sejarah orang Paniai menanam beras di sini. Orang Paniai menanam pangan lokal, seperti pisang dan ubi. Itu makanan orang Paniai,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat, pemilik warung, dan seluruh pelaku usaha dapat bersama-sama mendukung kebijakan tersebut. Dengan demikian, pangan lokal tidak hanya menjadi bagian dari budaya masyarakat, tetapi juga mampu menjadi sumber pendapatan dan menggerakkan ekonomi lokal.
Pemerintah Kabupaten Paniai juga mendorong agar kebijakan tersebut dilaksanakan secara konsisten sehingga hasil jualan mama-mama di pasar dapat terserap dan memberikan manfaat langsung bagi keluarga mereka.
(REDAKSI)







Apa komentar anda ?