JAYAPURA, nokenlive.com – Mantan Gubernur Irian Jaya dan Papua, Barnabas Suebu, mengungkapkan salah satu rahasia yang membuat dirinya tetap sehat dan kuat hingga usia 80 tahun. Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi sagu menjadi bagian penting dalam menjaga kebugaran tubuhnya.
Hal tersebut disampaikan Barnabas Suebu saat menghadiri Seminar Sagu Papua 2026 yang diselenggarakan oleh Yayasan Colo Sagu Nusantara bersama Polresta Jayapura Kota di Universitas Cenderawasih, Jayapura.
Barnabas Suebu, yang pernah memimpin Irian Jaya pada periode 1988–1993 dan Papua pada periode 2006–2011, mengatakan bahwa sagu bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga merupakan sumber kehidupan yang telah diwariskan oleh leluhur masyarakat Papua.
Menurutnya, hampir seluruh bagian pohon sagu memiliki manfaat bagi manusia. Mulai dari daun yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, batang yang menjadi tempat tumbuhnya berbagai organisme, hingga sari pati sagu sebagai sumber pangan utama.
“Semua yang ada pada pohon sagu itu bermanfaat. Dari daun, batang, sampai sari patinya, semuanya memberikan manfaat bagi kehidupan manusia,” ujarnya.
Barnabas juga menjelaskan bahwa manfaat pohon sagu tidak berhenti ketika pohon tersebut sudah membusuk. Menurutnya, batang sagu yang membusuk dapat menjadi tempat tumbuhnya jamur yang memiliki nilai kesehatan bagi masyarakat.
“Kalau pohon sagu sudah membusuk, pasti ada jamurnya. Jamur itu memiliki manfaat yang sangat baik bagi kesehatan karena mengandung antibiotik alami,” katanya.
Sebagai putra kelahiran Sentani, Barnabas mengaku mengetahui bagaimana masyarakat Papua sejak dahulu memanfaatkan hasil pohon sagu secara turun-temurun. Salah satunya adalah penggunaan jamur sagu dalam proses pemulihan ibu setelah melahirkan secara tradisional.
“Dulu, kalau ada ibu yang selesai melahirkan, orang tua mengambil jamur itu dan memberikannya kepada ibu tersebut untuk membantu mempercepat penyembuhan,” jelasnya.
Ia mengatakan bahwa tradisi tersebut menunjukkan masyarakat Papua telah memiliki pengetahuan lokal tentang pemanfaatan alam jauh sebelum berkembangnya ilmu kesehatan modern.
Selain jamur sagu, Barnabas juga menyoroti manfaat ulat sagu yang menurutnya memiliki kandungan protein tinggi. Ia menyebut pangan lokal tersebut sangat baik untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama ibu hamil dan ibu menyusui.
Menurutnya, konsumsi ulat sagu dapat membantu memenuhi kebutuhan protein sehingga ibu dan anak memperoleh asupan gizi yang cukup.
“Kalau ibu hamil mengonsumsi ulat sagu, kebutuhan protein dan gizinya akan tercukupi. Anak yang dilahirkan akan tumbuh sehat dan kuat. Saat menyusui pun, kebutuhan gizi anak dapat terpenuhi,” ungkapnya.
Barnabas bahkan menceritakan pengalamannya saat menjalankan tugas sebagai Duta Besar di Meksiko. Kecintaannya terhadap sagu membuatnya rela melakukan perjalanan panjang selama dua hari hanya untuk mendapatkan sagu di Amerika Serikat.
Baginya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa sagu memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar pangan. Sagu merupakan bagian dari identitas dan kebanggaan masyarakat Papua.
Ia mengajak masyarakat Papua untuk terus mengonsumsi sagu dan tidak meninggalkan pangan lokal yang telah menjadi warisan leluhur.
“Saya berpesan, kalau ingin hidup sehat, konsumsilah sagu,” tegasnya.
Barnabas juga mengingatkan pentingnya menjaga dan melestarikan dusun sagu yang tersebar di berbagai wilayah Papua. Sebab, dusun sagu bukan hanya sumber pangan, melainkan juga bagian dari sejarah, budaya, dan jati diri masyarakat Papua.
Menurutnya, menjaga dusun sagu berarti menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
“Melestarikan dusun sagu berarti menjaga identitas Papua. Sagu adalah warisan yang harus kita rawat bersama,” tutup Barnabas Suebu. (Melviandres Pamanggori – Redaksi DA)





Apa komentar anda ?