JAYAPURA, Nokenlive.com – Pemerintah Provinsi Papua menegaskan komitmennya dalam melestarikan sagu sebagai warisan budaya sekaligus sumber ekonomi masyarakat di tengah arus modernisasi. Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Papua, Aryoko Albertho Rumaropen, saat membuka Festival Sagu Papua dalam rangka peringatan Hari Kekayaan Intelektual 2026.
Kegiatan yang digelar di halaman Kantor Gubernur Papua, Jumat (24/4/2026), ditandai dengan penabuhan tifa oleh Wagub bersama para tamu undangan. Festival ini menjadi momentum penting untuk mengangkat kembali peran strategis sagu dalam kehidupan masyarakat Papua.
Dalam sambutannya, Rumaropen menegaskan bahwa sagu tidak hanya berfungsi sebagai bahan pangan, tetapi juga merupakan simbol kearifan lokal, kemandirian, serta keberlanjutan hidup masyarakat adat Papua.
“Sagu bukan sekadar makanan, tetapi identitas budaya yang harus kita jaga. Melalui festival ini, kita ingin mendorong modernisasi pengelolaan sagu tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisionalnya,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya perlindungan sagu sebagai bagian dari kekayaan intelektual komunal. Menurutnya, pengetahuan tradisional yang melekat dalam pengelolaan sagu harus didaftarkan secara resmi agar terlindungi secara hukum dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat adat sebagai pemiliknya.
Lebih lanjut, Wagub mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghargai karya dan kreativitas, serta menghindari praktik pembajakan yang merugikan pelaku usaha lokal, khususnya mama-mama Papua dan generasi muda kreatif.
Rumaropen juga mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha dalam mendukung pengembangan sagu sebagai komoditas unggulan daerah. Ia optimistis, dengan potensi budaya dan sumber daya lokal yang dimiliki, Papua mampu bersaing di tingkat nasional bahkan global.

“Papua bisa berdiri sejajar dengan daerah lain, bahkan dunia, melalui kekuatan budaya dan inovasi berbasis sumber daya lokal,” tegasnya.
Di sisi lain, ia menyoroti pentingnya regulasi terkait pemanfaatan pangan lokal. Pemerintah daerah di tingkat kabupaten/kota didorong untuk mulai menerapkan penggunaan pangan lokal seperti sagu dalam berbagai kegiatan, baik skala regional maupun nasional.
Selain itu, aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian utama. Rumaropen mengingatkan bahwa sagu merupakan tanaman alami yang harus dijaga kelestariannya melalui penanaman kembali serta perlindungan hutan sagu.
“Kita harus memastikan sagu tetap lestari untuk generasi mendatang. Ini membutuhkan kerja sama semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat,” ungkapnya.
Festival Sagu Papua diharapkan tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam memperkuat posisi sagu sebagai simbol budaya, sumber pangan, dan pilar kemandirian ekonomi masyarakat Papua di era modern.
(Andika/Redaksi)





Apa komentar anda ?