JAYAPURA, NOKENLIVE.com-Pasca putusan rekapitulasi Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Papua setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada 2024 yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Papua pada, Rabu (20/8/2025).
Pasangan Calon (Paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Papua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano-Constant karma (BTM-CK) menyampaikan pidato resmi, di kediaman BTM di Jalan Jeruk Nipis, Kotaraja, Distrik Abepura, kota Jayapura Provinsi Papua, Jumat (22/8/2025)
Pria yang akrab disapa BTM menyampaikan pidatonya, Kaos rakyat Papua mungkin lusuh, sandal rakyat mungkin tipis, tapi semangat rakyat tak pernah berhenti. Keringat masyarakat adalah tinta sejarah. Langkah rakyat adalah jejak perjuangan. Rakyatlah wajah sejati dari rakyat yang berjuang. perjuangan sebelas bulan ini tidak hanya tercatat dalam dokumen politik, tapi juga terukir dalam hati rakyat.
”Kita melihat mama-mama Papua yang menyiapkan makanan sederhana bagi relawan, meski dapurnya sendiri penuh kekurangan. Kita melihat anak- anak muda, dengan motor tuanya, berkeliling kampung membawa pesan perjuangan, tanpa peduli hujan atau panas,” ungkapnya.
“Kita melihat orang-orang tua yang renta, duduk di rumahnya, berdoa dalam kesunyian malam. Semua itu adalah bukti bahwa demokrasi sejati lahir bukan dari istana megah, tapi dari bawah lahir dari rakyat. Lahir dari hati yang tulus,” sambung BTM.
BTM menyatakan, dirinya dan Constant Karma berdiri bukan untuk memperdebatkan lagi keputusan KPU pasca Pilkada Papua. Biarlah hal ini lewat Bersama angin sejarah.
“Saya tidak menoleh ke belakang kami tidak lagi menghitung luka, karena yang lebih penting adalah menjaga harapan,” ujarnya.
Kata BTM, pihaknya tidak lagi mengulang cerita yang melukai hati, karena kini sedang melangkah dengan satu tujuan, yaitu menjemput kebenaran di Mahkamah Konstitusi.
”Kamu tahu, suara rakyat bukan angka di atas kertas. Suara rakyat adalah denyut hati, napas, dan harapan. Cairan putih itu mungkin bisa menutup tinta, tapi tidak pernah bisa Menghapus nurani. Sama seperti sungai yang deras, meski alirannya ditutup, air akan mencari jalan,” jelasnya.
“Begitu pula kebenaran. Ia mungkin tertahan sebentar, tapi pada akhirnya ia akan sampai juga muarah keadilan,” tutupnya. (Hubertus Gobai/Fredik)





Apa komentar anda ?