WAMENA, NOKENLIVE.com — Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Dr. Ones Pahabol, pada pembukaan Festival Budaya Lembah Baliem ke 33 menegaskan bahwa Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) bukan sekadar tontonan, tapi simbol harga diri dan kehormatan masyarakat Papua Pegunungan khususnya Lembah baliem yang harus dijaga dan dilestarikan lintas generasi.
Pernyataan itu disampaikan usai dirinya bersama Bupati Jayawijaya Atenius dan Wakil Bupati Ronni Elopere yang di dampingi istri masing masing selaku Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Papua Pegunungan dan Kabupaten Jayawijaya meninjau stand stand UMKM yang ada di lokasi FBLB ke-33 di Wamena, Kamis (7/8/2025).
Sebelumnya Wakil Gubernur Ones Pahabol bersama Bupati dan Wakil Bupati Jayawijaya turun langsung dari panggung utama menyapa peserta atraksi perang-perangan sebagai penutup rangkaian pembukaan FBLB.
Selain menyaksikan atraksi budaya dari berbagai distrik di Jayawijaya, para pimpinan daerah itu juga meninjau stand UMKM lokal, dan membeli produk kerajinan yang di pamerkan di stand – stand UMKM termasuk kopi lokal hingga jajanan dan kuliner.

Terlihat Wakil Gubernur Papua Pegunungan dan istri selain membeli produk kerajinan masayarakat seperti gelang, noken,kalung, kaos bercorak khas papua pegunungan juga membeli Kopi kemasan hingga menikmati minuman kopi, jajanan kue hingga Kuliner lokal khas Papua pegunungan yang kemudian di bagikan gratis kepada pengunjung untuk di nikmati. Tentu ini sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelaku ekonomi lokal.
“Ini bukan hanya festival. Ini adalah harga diri bangsa, dan lebih-lebih harga diri orang Papua Pegunungan. Dunia sudah mengakui bahkan melihat budaya warisan leluhur ini yang ke-33 kali itu artinya Ivent budaya ini harus terus hidup dan berlanjut,” ujar Ones Pahabol penuh semangat.
Ia menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda agar tidak kehilangan arah dan identitas budaya, karena Papua Pegunungan hingga hari ini masih bisa mempertahankan nilai-nilai warisan nenek moyang, meski di banyak tempat, budaya lokal telah punah.
“Generasi muda harus jaga garis dan nilai-nilai fundamental budaya ini. Jangan biarkan pudar. Ke depan, kami bersama Bupati, Wakil Bupati, dan Gubernur akan meningkatkan skala dan daya tarik festival ini agar makin dikenal dunia dan semakin banyak orang datang berkunjung ke Jayawijaya,” tegasnya.
Pahabol juga mengapresiasi keberadaan alat musik tradisional pikon yang menjadi ikon FBLB 2025 hingga menciptakan rekor MURI serta semangat pelaku UMKM yang menurutnya memberi dampak ekonomi riil bagi masyarakat.
Namun ia menyayangkan ketidakhadiran sejumlah pimpinan OPD yang seharusnya turut hadir mendukung.
“Seharusnya para pimpinan OPD juga datang dan belanja di sini. Uang seratus ribu itu lebih berguna jika dibelanjakan di festival ini daripada di tempat lain. Ini soal kesadaran kita untuk menggerakkan ekonomi lokal,” kata dia.

Dengan tema “Budayaku, Warisanku dari Jayawijaya untuk Dunia, Wagub OP berharap FBLB bukan hanya jadi festival tahunan, melainkan sebuah gerakan budaya kolektif yang menginspirasi daerah lain dan membawa kebanggaan bagi masyarakat pegunungan.
Ia pun menutup dengan ucapan syukur atas cuaca cerah selama festival berlangsung.
“Puji Tuhan, hari ini kita bisa lihat indah sekali, tambah Tuhan juga kasih cuaca yang cerah, tempat ini berubah berkat sentuhan pemimpin anak daerah sendiri yang Tuhan pakai dengan luar biasa, Bupati dan Wakil Bupati Jayawijaya terima kasih hari ini kita bisa lihat perubaha besar terjadi. Ini bukti bahwa kalau kita andalkan Tuhan, semua pasti baik. Jadi kuncinya Cuma satu Lihat Tuhan saja dan kemajuan Papua Pegunungan ada di pundak generasi muda saat ini. Tuhan berkati kalian semua,” tutup Ones Pahabol dengan penuh harap. ( Redaksi NL )





Apa komentar anda ?