JAYAPURA, NOKENLIVE.com- Panti Asuhan Sayap Kasih yang berada di Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua, merupakan salah satu panti yang selama ini menampung anak-anak yang berasal dari pedalaman Papua, terutama Kabupaten Mamberamo Raya dan Kabupaten Pegunungan Bintang serta beberapa daerah lainnya.
Panti Asuhan Sayap Kasih pada 2025 ini genap berusia 25 tahun. Adapun penghuni panti berjumlah 30 orang. Mereka datang ke Jayapura, untuk melanjutkan pendidikan.
Penanggung Jawab Panti Asuhan Sayap kasih, Syulla Tokoro menjelaskan, 30 anak-anak ini datang dari berbagai kampung yang ada di pedalaman Papua, terutama dari Kabupaten Mamberamo Raya dan Kabupaten Pegunungan Bintang serta beberapa daerah lainnya di Papua.
Baca juga: Datangi Panti Asuhan, Ketua Fraksi GAP DPR Papua Disambut Lagu Bahasa Sentani
Syulla menambahkan bahwa, rata-rata anak-anak panti yang tinggal di sini belum menguasai bahasa Indonesia, bahkan ada masih menggunakan bahasa daerah asalnya, lantaran belum mengetahui bahasa Indonesia sebagai bahasa umum sehari-hari di masyarakat.
“Anak-anak kami ini kebanyakan belum menguasai bahasa Indonesia, sehingga ketika mau daftar bantuan, perlu data seperti Kartu Keluarga (KK), Akta Kelahiran, namun anak-anak kalau mau urus harus kembali ke kampung mereka dan ini membutuhkan waktu yang cukup lama, bisa dua sampai tiga hari perjalanan,” jelasnya saat ditemui Nokenlive.com, Selasa (29/7/2025).
Menurut Syulla, untuk mengurus berkas-berkas persyataran bantuan memang perlu data-data dari masing-masing anak-anak panti, namun salah satu yang menjadi kendala adalah belum menguasai bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari pada umnya.
Baca juga: HUT DWP Papua Tengah Ke-25 Tahun, Di Warnai Anjangsana Bersama Anak Panti Asuhan
“Hal ini yang membuat kami merasa banyak kendala untuk mendapatkan bantuan-bantuan dari pihak terkait. Oleh karena itu, kami ajarkan mereka tentang bahasa Indonesia, sehingga mereka bisa berbahasa Indonesia,” ujarnya.
Butuh Biaya Makan dan Biaya Sekolah
Syulla mengatakan, 30 anak Panti Asuhan sayap Kasih ini memang memiliki keterbatasan, seperti biaya makan dan biaya sekolah, namun dengan cara Tuhan selalu ada jalan keluar dan dipermudah untuk melayani anak-anak di pantai tersebut.
“Kami akan berusaha supaya mereka (anak-anak) di panti ini bisa makan dan bisa bersekolah. Untuk uang ada sekitar 20 ribu perbulan, sehingga kami harus cicil sampai uang sekolah anak-anak lunas,” ujarnya.
Baca juga: Peduli Kasih, KPU Kabupaten Nabire Berbagi Kasih Kunjungi Panti Asuhan
“Kami pengasuh di sini, biayanya mengajarkan anak-anak untuk membaca dan menulis menggunakan bahasa Indonesia sekitar 4 sampai 5 bulan, baru kemudian anak-anak bisa berbicara dan membaca menggunakan bahasa Indonesia,” sambung dia.
Syulla berharap, Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten, dimana anak-anak ini berasal bisa memberikan perhatian, sehingga memenuhi kebutuhan sehari-hari anak-anak di Panti Asuhan Sayap Kasih.
Lanjut syulla tokoro, Anak anak yang datang dari kampung yang kurang berbahasa dan belum lancar membaca dan menulis kami berusaha mendidik mengajarkan dengan cara ABC dan pertahap supaya mereka bisa baca dan tulis. Dengan cara itu, setelah 4 Samapi 5 bulan kemudian mereka bisa baca dan tulis.
Baca juga: Langkah Kasih Seorang Ibu: Yuliana Kobak Pahabol Menyapa Anak-Anak Sekolah Sekina Wamena
“Panti Asuhan Sayap Kasih tidak hanya tampung anak-anak, tetapi kami mendidik, membina supaya mereka mereka kelak menjadi orang-orang yang bertanggung jawab, rendah hati kepada siapa pun dan anak-anak takut akan Tuhan,” tutupnya. (Hubertus Gobai/Fredik)





Apa komentar anda ?