
Oleh : Fibra Satyagraha
Program Makan Siang Gratis yang diluncurkan oleh Pak Prabowo pernah menuai cibiran dan kritikan pedas dari sebagian rakyat Indonesia, lucunya yang mengkritik adalah mereka yang bukan penerima manfaat secara langsung.
Makan Siang Gratis adalah bentuk perhatian presiden terpilih Prabowo Subianto yang memotret kehidupan anak-anak dengan latar belakang keluarga sederhana hingga kedua orangtuanya harus bekerja keras demi menghidupi keluarga dan tak jarang luput memperhatikan asupan gizi sang buah hati.
Jangan katakan kita hanya menemui kisah itu di ibukota atau kota-kota besar lainnya karena dengan mudahnya kita dapat menemui masalah tersebut tersebar diseluruh Indonesia termasuk di Provinsi Papua.

Sebagian dari kita mungkin adalah orang tua yang kurang beruntung dengan tingkat pendidikan seadanya dan penghasilan yang tak seberapa. Kesehariannya diisi dengan kerja keras menjadi buruh kasar, pekerja rumah tangga ataupun orang tua tunggal yang terpaksa menjadi tulang punggung satu-satunya. Kita mungkin tak mengalami kesulitan memenuhi gizi anak, tetapi tingkat kemahalan bahan pokok ditambah biaya hidup lainnya tak jarang membuat mereka harus menyantap makanan seadanya dan tak memenuhi standar makanan sehat juga seimbang.

Inilah yang menjadi dasar pemikiran seorang Prabowo, bahwa untuk pertama kalinya negara hadir dalam kehidupan rakyatnya lewat sepiring makanan yang bergizi dan sehat.
Dengan spirit yang sama, Fraksi Gerindra DPR Papua dibawah pimpinan Ibu Yanni kemudian mengambil langkah guna mengakselerasi program makan siang gratis yang akan segera dicanangkan di berbagai sekolah di Provinsi Papua.

Bersama kader Gerindra lainnya, Politisi Perempuan tersebut terjun langsung mengunjungi sejumlah SD di Provinsi Papua. Menurutnya program makan siang gratis perlu disosialisasikan secara massif agar impelementasinya nanti lebih siap dan terstruktur secara baik. “Ini program yang penerima manfaatnya adalah anak-anak sekolah, sehingga kita perlu untuk turun langsung melihat kesiapan perangkat sekolah juga berdiskusi meminta masukan agar pada saatnya bisa berjalan dengan baik”, ucapnya di suatu momen perbincangan bersama awak media usai mengadakan kunjungan pertama.
Tidak hanya itu, Ibu Yanni juga menyoroti nasib standar kelayakan para pendidik yang harus lebih mendapatkan perhatian terutama mereka yang mengabdi di wilayah yang jauh dari ibukota Provinsi. “Kita titipkan anak-anak ini kepada guru-guru untuk dididik, tetapi standar gaji masih jauh karena belum memadai, apalagi untuk yang masih honorer, nasib mereka juga perlu diperhatikan”, ungkapnya.

Ketua DPD Gerindra Provinsi Papua ini menegaskan bahwa anak-anak adalah masa depan bangsa yang harusnya mendapatkan perhatian utama karena mereka tidak bisa menyampaikan aspirasi seperti orang dewasa lainnya, sehingga apapun yang menjadi kebutuhan dasar, pemerintah wajib hadir untuk menjawabnya. “Kita katakan mereka generasi penerus tapi haknya kita abaikan, itu yang salah”. Di penghujung jabatan sebagai wakil rakyat Yanni tak mau berpangku tangan, menurutnya sekecil apapun, setiap kewajiban harus dijalani dengan benar, antusiasme anak-anak saat dirinya berkunjung terlihat begitu gembira, seluruh perangkat sekolah menyambut program makan siang gratis dengan sukacita. Mungkin itulah kisah kebahagiaan sebenarnya, yang bercerita lewat tangkapan kamera saat seorang anak mencium dengan tulus tangannya bak sosok ibu yang sekian lama ditunggu kehadirannya. ***
Penulis adalah Redaktur Nokenlive


Apa komentar anda ?