Sentani – Nokenlive.com
Merasa belum disentuh oleh Pemerintah selama ini kelompok petani kopi di Kampung Yanbra Distrik Kemtuk Gresi Kabupaten Jayapura berharap ada perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Jayapura baik untuk pengembangan lahan, pemasaran dan fasilitas penunjang untuk alat angkut biji kopi hasil panen.

“Jadi sejak tahun 1925 biji kopinya merupakan peningalan Belanda. Ketika itu orang Belanda memberikan biji kopi, kapas dan kelapa bagi masyarakat di Kampung Yanbra untuk dikembangkan,” ungkap Koordinator Kelompok Tani Kopi Usaha Bersama Kampung Yanbra Distrik Kemtuk, Herman.
Kata Herman, sejak almarhum bapak Habel Melkias Suwae menjadi Bupati Jayapura, dia mengerakkan masyarakat wajib tanam kakao,sebagai program primadona Pemerintah Kabupaten Jayapura untuk meningkatkan kesejahtraan masyarakatnya. Namun ketika itu salah satu tokoh masyarakat di Kampung Yanbra bapak Gideon Waisima mengajak masyarakat disini bagaimana kalau mengembangkan kopi peningalan belanda ini agar tidak hilang.
Sejak masyarakat, melalui kelompok tani yang dibentuk ketika itu, mulai mengembangkan kopi ini, sejak saat itu pula mereka membuat proposal permohonan bantuan ke Pemerintah Kabupaten Jayapura melalui Dinas terkait untuk mendapatkan bantuan. Namun malangnya ketika itu kelompok tani kopi yang di Ketuai bapak Gideon Waisima ini mendapat penolakkan.
“Jadi mereka malah menyuruh kelompok tani kopi ini kembali ke kampungnya bekerja dan terus mengarap lahannya.Dari dinas terkait waktu itu menyampaikan kerja saja dulu nanti Pemerintah dan Dinas terkait akan turun bawa bantuan.Namun faktanya sejak kopi ini dikembangkan hingga sekarang ini Pemerintah sama sekali tidak datang untuk membantu sesuai janji mereka atau sekedar melihat pengembangan kopi milik kelompok tani ini,” tutur Herman.
Pihaknya juga bahkan sudah mengajukan permohonan bantuan ke Distrik dan Kampung setempat agar bisa diangarkan sedikit dananya agar ada semangat dari petani kopi ini untuk mengembangkan lahannya tetapi tetap sama hasilnya tidak ada perhatian.
“Hasil kopi ini cukup banyak bahkan sekali panen ini bisa mencapai 10-15 karung. Kendalanya alat pengupas kulit kopi tidak ada, sehingga petani mengunkan dengan cara manual ditumbuk. Kalaupun ada alat pengupasnya hanya satu buah saja milik ketua kelompok dan itu tidak bisa membantu cepat proses pengupasan kulit dari kopi ini,”pintanya.
Herman berharap Pemerintah Kabupaten Jayapura bisa datang melihat dan membantu petani kopi ini.Sehingga kendala yang mereka hadapi selama ini bisa terjawab.
”Yang kami butuhkan disini alat pengupas kulit kopi,kalau bisa pemerintah bantu.Selain itu pemasaran hasil kopi ini juga jadi kendala, dan fasilitas penunjang untuk alat angkut biji kopi hasil panen,”tuturnya.
Sementara itu ditempat yang sama Ketua Kelompok Tani Kopi Usaha Bersama, Gideon Waisima mengaku ada 20 kelompok yang mengembangkan usaha kopi diwilayahnya. Hanya saja mereka terkendala alat penunjang pengupas kulit kopi dan fasilitas untuk alat pengangkut biji kopi hasil panen dan pemasarannya.
“Ada sekitar ribuan kopi yang ditanam masyarakat disini. Hanya dalam perjalanannya tidak efektif karena banyak tumbuhan kopi ini terserang hama.Selain itu dengan keterbatasan petani ini juga menjadi kendala lain untuk mereka kembangkan usaha kopi ini lebih baik dan banyak ditanam,”pintanya.
Gideon berharap agar Pemerintah Kabupaten Jayapura bisa turun dan melihat langsung. Karena ini salah satu potensi yang dimiliki masyarakat di Kampung Yanbra Distrik Kemtuk Gresi untuk membantu peningkatan ekonomi keluarga mereka.
“Kita bisa lihat di wilayah lainnya di Kabupaten Jayapura, dimana tanaman kakao itu sudah tidak dikembangkan lagi.Padahal itu dulunya merupakan program primadona Pemerintah ketika itu. Justru sebaliknya kami yang dulunya memilih untuk mengembangkan kopi diwilayah ini masih terus berlanjut walaupun mendapatkan kritikan dari Pemerintah ketika itu karena dianggap tidak sesuai dengan kebijakkan mereka,” tambah Gideon.
Gideonpun berharap Dinas terkait di Kabupaten Jayapura bisa membantu mereka fasilitas penunjang terutama alat pengupas kopi.Sehingga petani kopi ini bisa lebih mudah lagi untuk mengolah biji kopi hasil panen.Selain itu membantu pemasarannya,karena selama ini ada pengusaha kopi yang datang langsung membeli dipetani dengan harga murah.
“Mudah-mudahan ada perhatian Pemerintah setempat,sehingga apa yang menjadi kesulitan para petani kopi selama ini bisa terbantu,”tutup Gideon.(HANS PALEN)





Apa komentar anda ?