Wamena – Nokenlive.com
Permasalahan kebutuhan sumber air merupakan masalah yang paling krusial dibidang pertanian di wilayah Pegunungan Tengah Papua. Para petani di pegunungan hanya bergantung kepada curah hujan.
Guna mengatasi pemasalahan ketersediaan sumber air di lahan pertanian, pembangunan sumur renteng membantu petani menyimpan air dan menggunakannya saat kemarau melanda sebagai bentuk penyuplai air tanpa harus menunggu musim hujan tiba.
Oleh karena itu, untuk mengatasi ketersediaan air dilahan kritis milik petani kurang mendapat pasokan sumber air, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (Stiper ) Petra Baliem Wamena, Jayawijaya, bekerjasama Universitas Tanjungpura, Pontianak melakukan proses diseminasi teknologi irigasi sumur renteng dilahan kritis milik petani kampung Husoak, Distrik Hubikiak, Kabupaten Jayawijaya, Papua.
Kampung Husoak, distrik Hubikiak merupakan salah satu daerah diwilayah Provinsi Papua Pegunungan yang saat ini berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.
Keseluruhan wilayah Pegunungan Tengah saat ini masih menerapkan system pertanian tradisional, dimana proses budidaya tanaman dilakukan petani setempat hanya digantungkan pada alam sehingga teknis budidaya tanaman sejauh ini tidak dilakukan.
Karena itu, masalah ketersediaan pangan memerlukan penanganan yang serius, terencana, dan hati-hati. Hal ini dapat terjadi dan berlangsung lama didaerah-daerah yang minim infrastruktur bahkan sumber daya manusia, seperti di kampung Husoak, distrik Hubikiak, kabupaten Jayawijaya.

Dikutib dari tulisan tim Pelaksana Kegiatan Kolaborasi Membangun Bangsa (Kosabangsa), salah satu ketersediaan pangan adalah pembangunan saluran irigasi. Oleh karena itu, komitmen pemerintah atas ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat menjadi tema sentral dalam rangka kegiatan pembangunan saluran irigasi untuk menunjang penyediaan bahan pangan nasional sangat diperlukan.
Dari catatan tim Kosabangsa, pembangunan sumur renteng di kampung Husoak, Distrik Hubikiak, sehingga ketersediaan air dilahan akan terpenuhi walaupun lahan tersebut berada jauh dari sumber air permukaan (sungai).
Hal tersebut tidak terlepas dari usaha teknik irigasi yaitu memberikan air dengan kondisi tepat mutu, tepat ruang, dan tepat waktu dengan cara yang efektif dan ekonomis.
Dampak akibat system budidaya lahan berpindah mengibatkan ada lahan yang terbengkalai tanpa bisa digunakan, apalagi saat musim kemarau tiba. Hal ini terjadi karena petani menunggu tibanya musim penghujan agar dapat dilakukan pengolahan tanah kembali.
Ketahanan pangan menjadi sesuatu yang sangat penting bagi proses pembangunan. Kegagalan dalam pencapaian ketahanan pangan akan diidentikkan dengan kemiskinan dan kondisi rawan pangan.
Salah satu teknologi yang penting dalam meningkatkan produksi pertanian selain pemupukan adalah melalui pemanfaatan teknologi irigasi yang dapat menunjang system budidaya tanaman dan berperan sebagai wadah penampung air dengan dibantu oleh mesin pompa air.
“Prinsip sumur renteng adalah menampung air untuk irigasi dalam sebuah bak penampungan berbentuk silinder yang terhubung dengan bak penampungan lainnya melalui pipa kapiler,” jelas dalam tulisan itu.
Dengan adanya bak penampungan ini, risiko kehilangan air selama pendistribusian dapat diminimalisasi karena irigasi dari bak penampungan dapat menjangkau tanaman secara langsung.
Kampung Husoak, distrik Hubikiak memiliki potensi untuk dikembangkan pertanian organic tradisional, selain itu merupakan sebuah kampung adat yang masih banyak keterbatasan.
Oleh karena itu untuk mengembangkan pertanian petani di kampung Husoak berharap memperoleh bantuan dana atau suport dari instansi pemerintah demi kelangsungan hidup mereka.
Permasalahan yang dihadapi petani di kampung Husoak Distrik Hubikiak secara umum adalah belum adanya pembangunan irigasi terkait sistem pertanian organik yang telah diterapkan selama ini, yang dapat menjawab permasalahan terkait kebutuhan air tanaman di musim kemarau.
Proses penyiraman tanaman tidak pernah dilakukan karena petani hanya mengandalkan hujan (masih bersifat tradisional). Bahkan penampungan air berupa embung pun tidak ditemukan dilapangan.
Keterbatasan infrastruktur pertanian menjadi alasan utama sebuah terobosan baru terkait diseminasi teknologi sumur renteng sebagaimana yang pernah diadakan sebelumnya di distrik Walelagama tahun 2021 yang saat ini membantu petani dalam proses budidaya tanaman.
Adapun tim Pelaksana Kegiatan Kolaborasi Membangun Bangsa (KOSABANGSA) masing masing Sumiyati Tuhuteru, S.P., M.Sc., Anti Uni Mahanani, S.P., M.P, Rein Edward Yohanes Rumbiak, S. Kom. M.MSI, Dr. Ir. Yohana S. K. Dewi, M.P., Endius Tabuni, Konius Doga, Endison Wenda, Opapur Tabo, Benius Wenda, Mariana Lengka, Rusina Himan.
Tim pelaksana sekaligus penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktoran Riset, Teknologi dan Pengabdian kepada Masyarakat yang telah memfasilitasi secara financial kebutuhan dan kepentingan pengabdian melalui kegiatan Kosabangsaskema.(ARNY HISAGE)





Apa komentar anda ?