
“BTM itu arti dari Berkat Terus Mengalir”, begitulah sepenggal kalimat dari sosok John M Kabey tatkala menyampaikan sambutan di podium lalu tatapannya menangkap sosok mantan Walikota Jayapura Benhur Tomi Mano tengah berjalan menuju kursi tamu, boleh dikata suasana berubah, mama-mama yang tengah serius saling melempar senyum sumringah melihat kedatangan BTM, beberapa diantaranya menyapa beliau dengan wajah ceria, tampak beberapa ondoafi yang hadir turut berdiri menyambut.
Siang itu, cuaca panas di Jalan Yahim, tak menyurutkan langkah BTM untuk menghadiri undangan peresmian rumah Sagu Huruwakha, kami pun cukup terkejut, karena kesediaan Pak BTM menghadiri acara peresmian sederhana yang diketuai Ibu Linda Tokoro tersebut. Jabatan sebagai Tenaga Ahli Rehabilitasi Sosial Kemensos diemban dengan penuh rasa tanggung jawab, tidak perlu prosedur yang berbelit-belit, meskipun undangan tersebut hanya sempat dikirim via WA, dengan rendah hati beliau hadir di tengah-tengah kumpulan mama-mama pejuang pangan lokal.

Ada hal yang menarik, bahwa kehadiran sosok BTM sudah lama dirindukan, wajah-wajah penuh harapan anggota rumah produksi sagu Yahim jelas terlihat, bahkan sang Ketua ibu Linda Tokoro terlihat bersemangat menjelaskan perihal rencana produksi kepada beliau.
Saat diminta untuk menyampaikan sambutan dihadapan mama-mama kelompok Huruwakha, BTM mengatakan dirinya sangat mengapresiasi perjuangan mengangkat pangan lokal dan berjanji mencarikan jalan agar 19 kelompok lainnya bisa memiliki rumah produksi sendiri. “Saya sangat mengapresiasi kerja keras ibu Linda dan kelompok mama-mama ini untuk mengangkat pangan lokal yang kedepan bisa menjadi sumber pendapatan rumah tangga, nanti kita akan buat rumah produksi dan berjuang bersama mewujudkannya”, ujar BTM yang disambut tepuk tangan dari para undangan yang hadir.

Benhur Tomi Mano, bukanlah sembarang figur pemimpin, pria kelahiran 30 April 1965 ini mengawali karir sebagai PNS dan berhasil menapaki panggung politik hingga terpilih sebagai Walikota Jayapura pada 2011 lalu, dirinya kemudian mengulang suksesi kepemimpinannya dengan kembali terpilih sebagai Walikota Jayapura di tahun 2017. Tegas dan berkarakter namun bersifat kebapakan bagi seluruh warga kota Jayapura tanpa terkecuali. Namanya melejit sebagai Walikota Jayapura saat berhasil menaikkan pendapatan asli daerah delapan kali lipat di periode pertamanya, meskipun Kota Jayapura sendiri tidak memiliki banyak sumber daya alam seperti kota/kabupaten lainnya di Papua. Yang perlu diapresiasi adalah langkah seorang BTM dalam mewujudkan visi dan misi kepemimpinan yang tegas, lugas dan terarah, seperti mempertahankan predikat WTP murni (Wajar Tanpa Pengecualian) sebanyak sembilan kali selama memimpin Kota Jayapura, ini membuktikan bahwa transparansi dan akuntabilitas yang selalu menjadi acuannya, bukan sekedar isapan jempol belaka.
Dan semuanya tampak paripurna dengan kelebihan BTM yang berhasil membangun kerukunan hidup beragama di ibukota Provinsi Papua, seorang Kristen yang taat dan mengasihi umat beragama lainnya, bahkan saat diundang pada salah satu program Nokenlive, dirinya sempat mengenang saat-saat bersekolah di salah satu sekolah muslim.
Satu tulisan tidak mampu menjangkau seluruh kinerja yang telah ditorehkan oleh beliau, apresiasi tak pernah berhenti datang entah itu dari ASN, Ondoafi, Politikus, Pengusaha, Pendeta, Pastor bahkan pemuka agama lainnya, dan masyarakat biasa yang seringkali menyebut nama BTM dalam daftar pemimpin yang dinilai mampu mengayomi masyarakat. Ada cerita dari seorang Anggota Dewan di Kabupaten Jayapura, Hermes Felle yang saat ini menjabat sebagai Ketua Komis A, dirinya mengaku sangat bangga saat tahu bahwa seorang Benhur Tomi Mano dipilih menjadi Tenaga Ahli Bidang Rehabilitasi Sosial Kementrian Sosial, “Tidak gampang untuk dilirik pusat, beliau ini dipilih dari 18 orang terbaik satu Indonesia untuk jabatan itu, dan sebagai Orang Papua, saya bangga bahwa ada sosok Benhur Tomi Mano yang mampu bersaing dan terpilih mendampingi ibu Risma di Kementrian Sosial”, ujarnya.
Jarum politik mulai berdetak menghitung hari, bukan sekedar isu belaka bahwa banyak masyarakat berharap beliau maju untuk memimpin Papua, namun seorang BTM bukanlah pribadi yang jumawa menepuk dada, yang sebenarnya adalah kerinduan beliau melihat kemajuan dan kemandirian masyarakat, dan itu hanya bisa diperoleh dengan tulus melayani, dan memahami intisari dinamika hidup bermasyarakat, kerja keras seorang BTM selama 10 tahun saat menjabat sebagai Walikota Jayapura berhasil mewujudkan harmonisasi antara profesional dan rendah hati, melayani dan mengayomi, serta tegas dan mengasihi sehingga telah memenangkan hati banyak orang yang merindukan sosoknya untuk maju menjadi pemimpin di Propinsi Papua. (Red)





Apa komentar anda ?