Burmeso, Nokenlive.com – Kepala Dinkes Mambraya Levina Krey, M.Ph, mengatakan Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya (Mambraya) dalam hal ini Dinas Kesehatan konsen menangani gizi buruk dan stunting di wilayah itu.
“Mamberamo Raya juga dimasukan dalam kategori 22 kabupaten yang saat ini konsen menangani masalah gizi buruk dan stunting,ujarnya Jumat (28/6/2019).
Olehnya itu, Dinkes membangun kerjasama atau kerja keroyokan dengan OPD terkait lainnya, seperti perikanan, pertanian ,kemudian TP PKK dan juga dari pihak gereja.
Kadis mengakui untuk menangani masalah gizi buruk di wilayah itu, tidak bisa dilakukan oleh Dinas Kesehatan sendiri tetapi harus dilakukan oleh berbagai pihak terkait.
Karena kesehatan itu hanya berbicara tentang bagaimana menangani gizi buruk.
“Tetapi bagaimana saat awal terjadinya, sehingga ini harus dengan OPD terkait terutama penyediaan makanan yang bergizi, ketahanan pangan. Begitu juga dari perternakan dan seterusnya terkait distribusi pangan harus sampai ke kampung-kampung,” urainya.
Sementara, jangkauan ke kampung-kampung sangat jauh dan sulit. Termasuk juga terhambat oleh tingginya harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Padahal SDA di Mambraya terutama sumber-sumber protein cukup banyak.
“Sehingga perlu kerjasama dari pemberdayaan kampung dab perempuan, agar dalam pengelolaan makanan yang bergizi ini bisa sama-sama kita jalan,” harap Kadis.
Untuk saat ini, Dinkes bekerja sama dengan TP PKK setempat dan juga dengan pihak gereja untuk menangani gizi buruk.
“Kegiatan yang sudah kita lakukan dengan gereja yaitu membuat pelatihan mengelola makanan khas Papua dengan bahan baku lokal di kampung Teba, Warenwori dan Poiwai. Kita berharap bulan depan akan lakukan di kampung Trimuris dan Baudihol untuk penanganan gizi,” cetusnya.
Lebih lanjut dikatakan Kadis, pihaknya juga melakukan kerjasama dengan kader-kader Posyandu di kampung Barapasi, Marikai, Bariwaro, Sipisi dan Benuki.
‘Kita latih untuk bagaimana menangani tugas-tugas sebagai kader untuk membantu dalam masalah penanganan gizi buruk dan stunting,” sambungnya.
Diungkapkan Kadis pula, kondisi gizi buruk di Mambraya ini memungkinkan terjadinya stunting.
“Jadi kita juga dikategorikan sebagai kabupaten yang kemungkinan akan terjadi stunting. Itu artinya,” lanjutnya.
Meski demikian, Kadis mengakui hingga saat pihaknya belum melihat langsung atau menghitung kembali lagi jumlah penderita stunting.
“Hanya 15 persen yang di tangani stunting di tahun 2018,” rincinya.
Untuk mencegah semua ini, maka tindakan-tindakan yang dilakukan dan di dorong oleh Bupati dengan membentuk tim Satgas Penanganan Gizi Buruk dan juga stunting sejak 2017.
Satgas ini bekerja sama dengan OPD terkait, pihak gereja, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan pemberdayaan kampung.
(Arc/Surya)





Apa komentar anda ?