YALIMO, nokenlive.com — Bupati Kabupaten Yalimo, Dr. Nahor Nekwek, S.Pd., M.M., mengapresiasi pengabdian 17 calon pelayan firman yang telah menjalankan tugas pelayanan selama dua tahun di wilayah Klasis GKI Yalimo Elelim.
Apresiasi tersebut disampaikan Bupati Yalimo saat menghadiri acara pelepasan 17 calon pelayan firman di Gereja GKI Moria Pirip, Kampung Yabema, Distrik Elelim, Kabupaten Yalimo, Provinsi Papua Pegunungan, Senin (5/10/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Bupati didampingi Wakil Bupati Yalimo Yan Kirakla, S.Pd., serta sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Yalimo.

Acara pelepasan diawali dengan ibadah yang dipimpin Pdt. Toncimora. Selanjutnya, 17 calon pelayan firman yang telah menyelesaikan masa pelayanan selama dua tahun di Klasis GKI Yalimo Elelim dilepas oleh Ketua Klasis GKI Yalimo Elelim, Pdt. Yahya Walianggen, S.Th., untuk kembali kepada Sinode GKI di Tanah Papua dalam rangka penugasan dan proses pelayanan selanjutnya.
Bupati Nahor mengatakan, masa pelayanan selama dua tahun di wilayah Yalimo merupakan bagian penting dari proses pembentukan iman, mental dan karakter bagi para calon pelayan yang sedang mempersiapkan diri menjadi hamba Tuhan.
“Melayani Tuhan itu sangat mulia. Dua tahun pelayanan dengan berbagai tantangan merupakan salah satu ujian iman untuk bagaimana seseorang mempersiapkan diri menjadi hamba Tuhan,” kata Nahor.
Ia menyampaikan bahwa para calon pelayan telah menunjukkan pengabdian dengan melayani bukan hanya di pusat distrik, tetapi juga sampai ke kampung-kampung dengan kondisi geografis dan tantangan pelayanan yang tidak mudah.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan seorang pelayan Tuhan agar mampu memahami kehidupan masyarakat dan menghadapi berbagai situasi dalam menjalankan tugas pelayanan.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Yalimo dan seluruh masyarakat, saya menyampaikan terima kasih atas pengabdian yang luar biasa selama dua tahun. Saudara-saudari telah melayani di empat distrik hingga ke kampung-kampung,” ujarnya.
Bupati juga berpesan kepada para calon pelayan agar membawa pengalaman selama berada di Yalimo sebagai bekal dalam menjalankan tugas di tempat pelayanan yang baru.
“Pergilah dengan iman, layani dengan kasih, dan jadilah berkat di mana pun Tuhan menempatkan saudara-saudari. Jangan lupa tempat dan orang-orang yang telah menjadi bagian dari pelayanan selama dua tahun di Kabupaten Yalimo,” pesan Nahor.
Ia juga memberikan perhatian khusus kepada para pelayan perempuan yang selama menjalankan tugas harus meninggalkan keluarga dan menghadapi medan pelayanan yang berat.
Bupati menilai perjalanan melewati lembah dan gunung serta menghadapi berbagai tantangan selama pelayanan merupakan bagian dari ujian iman dan kehidupan yang akan membentuk keteguhan seorang hamba Tuhan.
“Mereka turun melewati lembah dan gunung, meninggalkan keluarga, menghadapi berbagai tantangan dalam perjalanan. Itu merupakan ujian iman dan ujian hidup. Tetapi mereka tetap menjalankan tugas karena datang untuk melayani,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Klasis GKI Yalimo Elelim, Pdt. Yahya Walianggen, S.Th., mengatakan kehadiran para calon pelayan selama dua tahun telah memberikan kontribusi yang besar bagi pelayanan di jemaat-jemaat dalam wilayah Klasis Yalimo Elelim.
Menurut Yahya, para calon pelayan turut meringankan beban majelis jemaat dan para pelayan jemaat dalam menjalankan berbagai tugas pelayanan.
“Selama mereka bertugas di sini, mereka sudah sangat membantu Badan Pekerja Klasis dan jemaat-jemaat dalam hal pelayanan. Begitu calon pelayan ini ditempatkan, sebagian beban pelayanan mereka tangani, atasi dan kendalikan, sehingga pelayanan di jemaat dapat berjalan dengan baik,” jelas Yahya.
Ia juga mengapresiasi pelayanan para calon pelayan yang tidak hanya berfokus pada internal GKI, tetapi turut mendoakan pemerintah, TNI-Polri, masyarakat Kabupaten Yalimo, serta seluruh denominasi gereja.
“Mereka juga aktif mendoakan pemerintah, TNI-Polri, masyarakat Kabupaten Yalimo dan seluruh denominasi gereja. Karena itu, pelayanan mereka di Klasis Elelim bersifat netral dan doa mereka juga netral, tidak hanya untuk GKI,” katanya.
Yahya menilai pengalaman melayani di wilayah pegunungan Yalimo menjadi bekal penting bagi para calon pelayan dalam mempersiapkan diri menjadi pendeta.
“Sangat indah kalau tugas pertama dimulai dari daerah gunung. Di sini karakter saudara-saudara sudah dibentuk, mental sudah diuji, dan mereka sudah belajar membaca karakter masyarakat serta menyesuaikan diri dengan lingkungan pelayanan,” ujarnya.
Bupati Nahor berharap para calon pelayan yang akan melanjutkan tugas di tempat baru tetap membawa semangat pengabdian serta menjadikan pengalaman selama dua tahun di Yalimo sebagai bagian penting dalam perjalanan pelayanan mereka.
“Tugas yang Tuhan berikan ini bukan main-main. Kita semua berasal dari Tuhan dan diberikan tugas masing-masing. Karena itu, kita harus terus mendekatkan diri kepada Tuhan dalam melayani,” pungkasnya.
(Redaksi DA)





Apa komentar anda ?