YALIMO, Nokenlive.com – Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, menyerukan penghentian perang suku yang masih terjadi di sejumlah wilayah Papua Pegunungan. Ia meminta pemerintah, gereja, tokoh adat, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat bersama-sama menjaga keselamatan manusia.
Pesan tersebut disampaikan Ones Pahabol saat menghadiri pembentukan Panitia Sidang Sinode Wilayah Yamewah ke-IX sekaligus syukuran Kantor Administrasi Klasis Wandik Walela di Distrik Abenaho, Kabupaten Yalimo, Selasa (15/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Yalimo, Ketua DPRD Kabupaten Yalimo, anggota DPR Provinsi Papua Pegunungan, Sekretaris Daerah Kabupaten Yalimo, jajaran OPD Kabupaten Yalimo, serta sejumlah OPD Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan.
Dalam sambutannya, Ones Pahabol menegaskan bahwa kehidupan manusia harus menjadi prioritas dalam setiap kebijakan dan pelayanan pemerintah maupun gereja.
“Sebagai anak-anak Tuhan yang ada di dalam pemerintahan provinsi, bersama-sama dengan teman-teman mitra daripada pimpinan-pimpinan gereja atau pimpinan-pimpinan agama, kita bersama-sama harus lebih mengutamakan manusia. Karena manusia adalah gambar dan rupa Tuhan,” tegas Ones Pahabol.
Menurutnya, karena manusia merupakan ciptaan Tuhan, tidak boleh ada tindakan sewenang-wenang yang merendahkan martabat manusia, termasuk tindakan yang menghilangkan nyawa.
“Manusia adalah gambar dan rupa Tuhan. Karena itu, tidak boleh ada tindakan sewenang-wenang terhadap manusia yang lain, termasuk membunuh orang lain,” ujarnya.
Dari pesan tersebut, Ones kemudian secara khusus menyinggung persoalan perang suku yang masih terjadi di Papua Pegunungan.
Ia mengajak seluruh kepala daerah, pimpinan DPRD, pemerintah, gereja, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat untuk membangun kesepakatan bersama agar perang suku dihentikan.
“Kita harus sepakat, tidak boleh lagi ada perang suku. Ini tidak boleh ada,” tegasnya.
Wagub Ones menilai perang suku justru membawa kerugian besar bagi masyarakat karena menimbulkan korban, menghancurkan kehidupan, dan mengancam masa depan generasi berikutnya.
“Perang suku penting bagi siapa? Orang semua sudah habis, baru perang suku lagi. Menghabiskan orang. Ini satu hal yang keliru,” katanya.
Ia meminta masyarakat mengalihkan energi dan kekuatan yang ada untuk membangun kehidupan, memperkuat persaudaraan, serta menciptakan masa depan yang lebih baik.
“Mulai sekarang saatnya kita berbicara, anak kecil, orang besar, suku mana, kelompok mana, itu tidak boleh lagi. Saatnya mengejar jiwa-jiwa baru bagi Tuhan. Menghidupkan jiwa baru itu lebih penting daripada membinasakan atau membunuh jiwa yang lain,” ujar Ones.
Ones juga mengajak masyarakat Papua Pegunungan tidak menjadikan perbedaan suku dan kelompok sebagai alasan untuk bermusuhan.
Ia mendorong masyarakat membangun persaudaraan dengan menjadikan kasih Kristus sebagai dasar kehidupan bersama.
“Ini menyangkut kebersamaan. Kita di dalam Kristus. Kita lebih baik menjadi suku Kristus, sehingga kita melakukan segala sesuatu dengan kasih Kristus, mengasihi satu dengan yang lain seperti yang diajarkan oleh firman Tuhan,” katanya.
Menurut Ones, penghentian konflik membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat. Pemerintah, gereja, lembaga adat, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menciptakan kehidupan yang damai.
Ia berharap momentum kegiatan gereja tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat persatuan dan mendorong masyarakat Papua Pegunungan meninggalkan kekerasan serta mengedepankan keselamatan manusia.
(Tundemin/Redaksi)





Apa komentar anda ?