WAMENA, Nokenlive.com – Semangat membangun keluarga sehat, mandiri, dan berdaya terus digaungkan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Tolikara. Hal itu ditegaskan Ketua TP-PKK Tolikara, Ny. Elisabeth Y. F. F, Wandik S.E., M.M., usai mengikuti Rapat Kerja Daerah (RAKERDA) I Tahun 2026 TP-PKK Provinsi Papua Pegunungan yang berlangsung di Hotel Grand Baliem Pilamo, Wamena, Senin (12/05/2026).
Dalam wawancara di sela-sela kegiatan, Elisabeth menyebut pelaksanaan RAKERDA tingkat Provinsi Papua Pegunungan menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi program PKK dari pusat hingga daerah demi mendukung visi Indonesia Emas 2045.
“RAKERDA kali ini, kami bersyukur karena baru pertama kali Provinsi Papua Pegunungan melaksanakan RAKERDA. Hal ini sangat penting sehingga program-program dari pusat dapat berjalan sampai ke daerah menuju Indonesia Emas tahun 2045,” ujarnya.
Elisabeth mengungkapkan, berbagai program prioritas PKK di Kabupaten Tolikara sebenarnya telah berjalan sejak tahun 2025 dan dilaksanakan melalui seluruh kelompok kerja (Pokja) PKK.
Pada Pokja I, TP-PKK Tolikara fokus pada penghayatan dan pengamalan Pancasila, termasuk pelaksanaan nikah massal, penguatan Dasawisma, serta pembinaan masyarakat hingga ke distrik-distrik.
“Sepuluh program pokok PKK itu kami sudah jalankan,” katanya.
Sementara di Pokja II, perhatian besar diberikan pada sektor pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini (PAUD) dan pengembangan sumber daya manusia lokal. Menurut Elisabeth, pihaknya mendorong keterlibatan anak-anak asli daerah agar memiliki tanggung jawab terhadap kampung dan distrik masing-masing.
“Kami lebih fokus kepada anak-anak daerah. Guru-guru kami titipkan melalui Dinas Pendidikan supaya mereka bertanggung jawab terhadap daerah mereka sendiri,” ungkapnya.
Di bidang kesehatan, terutama pada Pokja III yang dikenal sebagai “Hatinya PKK”, TP-PKK Tolikara aktif menjalankan program pencegahan stunting dan pelayanan kesehatan masyarakat.
“Kami melayani seribu hari pertama kehidupan. PKK juga hadir melalui pemberian vitamin C untuk bayi dalam kandungan dan ibu menyusui,” jelas Elisabeth.

Keterangan Foto : Para Pengurus TP-PKK Dari Delapan Kabupaten Se-Papua Pegunungan Berfoto Bersama Perwakilan Pemerintah Provinsi Di Grand Baliem Hotel, Wamena, Senin (12/05). Kegiatan Ini Bertujuan Memperkuat Komitmen Pemberdayaan Keluarga Di Wilayah Tersebut.
Tak hanya itu, TP-PKK Tolikara juga rutin melakukan kunjungan sosial ke rumah sakit sebanyak tiga hingga empat kali dalam seminggu untuk membantu masyarakat yang sedang menjalani pengobatan.
“PKK selalu hadir untuk melayani. Walaupun tidak banyak, kami membantu dengan sedikit dukungan, termasuk ongkos ojek bagi keluarga pasien yang mengantar makanan,” katanya.
Pada Pokja IV, TP-PKK Tolikara juga aktif melakukan edukasi pola hidup bersih dan sehat di sekolah-sekolah. Salah satunya melalui sosialisasi pentingnya mencuci tangan sebelum makan kepada anak-anak di 12 distrik.
“Kami ajarkan bagaimana anak-anak harus mencuci tangan dengan baik sebelum makan,” ujarnya.
Menurut Elisabeth, dukungan pemerintah distrik dan masyarakat terhadap program PKK di Tolikara sangat besar. Ia mencontohkan Distrik Kubu yang dinilai siap mendukung program “Hatinya PKK” hingga peluncuran program pemberian makanan sehat bagi bayi, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Selain itu, program Dasawisma juga terus diperkuat hingga ke kampung-kampung sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan lingkungan dan membantu pemerintah daerah.
“Ketika Dasawisma masuk di setiap kampung, otomatis kebersihan lingkungan juga berjalan,” tuturnya.
Meski menghadapi tantangan geografis dan cuaca ekstrem khas wilayah pegunungan, Elisabeth memastikan hal tersebut tidak menyurutkan semangat pelayanan TP-PKK Tolikara.
“Kalau soal hujan dan kabut, orang Tolikara sudah terbiasa. Itu tidak mematahkan semangat kami. PKK tetap berjalan,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Elisabeth juga menyoroti pentingnya menjaga kearifan lokal Papua, khususnya keberadaan honai sebagai rumah adat masyarakat pegunungan.
“Orang bilang honai itu kotor, tetapi bagi kami honai adalah ibu. Di dalam honai ada tungku, dan tungku itu yang memberi kehidupan bagi keluarga,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat memadukan pembangunan kesehatan dan sanitasi tanpa menghilangkan identitas budaya masyarakat lokal.
“Kita tidak bisa terlepas dari kearifan lokal. Selama masyarakat masih ada, maka honai tetap ada,” ujarnya.
Terkait pemberdayaan perempuan, Elisabeth menegaskan seluruh organisasi perempuan di Tolikara terus dirangkul untuk bersama-sama mendukung pembangunan daerah.
“Setiap ada kegiatan perempuan, saya selalu merangkul semua organisasi perempuan, mulai dari GOW, Dharma Wanita, Persit hingga Bhayangkari,” ungkapnya.
Ia juga mengapresiasi semangat perempuan asli Tolikara yang dinilai semakin aktif dan berdaya dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
“Puji Tuhan, perempuan-perempuan Tolikara sangat semangat dan giat,” tutupnya.
Selain menjalankan program-program utama, TP-PKK Tolikara juga rutin melaksanakan kegiatan kerja bakti dan pembersihan lingkungan setiap Jumat dan Sabtu apabila tidak ada agenda kegiatan lainnya.
(Tundemin/MR)





Apa komentar anda ?