JAYAWIJAYA-NOKENLIVE.com – Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK Jayawijaya) menggelar rapat dengar pendapat (hearing) guna mengantisipasi potensi lonjakan harga kebutuhan pokok dan transportasi akibat kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur).
Pertemuan yang berlangsung di ruang Badan Anggaran DPRK Jayawijaya pada Selasa (14/4/2026) ini menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya Dinas Perhubungan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, otoritas bandara, serta maskapai dan asosiasi aviasi.

Ketua Komisi B DPRK Jayawijaya, Yosep Lokobal, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk deteksi dini terhadap dampak situasi ekonomi global dan nasional yang mulai dirasakan di wilayah pegunungan Papua, khususnya Wamena.
Menurutnya, hasil hearing mengungkap bahwa kenaikan harga avtur menjadi faktor utama yang memicu kekhawatiran berbagai pihak.
“Persoalan utamanya ada pada harga avtur. Sebelumnya berada di kisaran Rp15.500, namun saat ini sudah melonjak hingga Rp25.000. Kenaikan yang mencapai lebih dari 60 persen ini otomatis akan memengaruhi harga tiket, BBM, hingga harga sembako di Wamena,” ujarnya.

Meski dampaknya belum dirasakan secara masif di pasar, Komisi B memrinta seluruh pihak segera mengambil langkah mitigasi untuk mencegah lonjakan harga yang lebih luas.
Sebelum hearing digelar, Komisi B juga telah melakukan pengawasan langsung di lapangan. Dari hasil pemantauan tersebut, ditemukan adanya indikasi spekulasi harga oleh sejumlah pedagang.
“Kami temukan di lapangan beberapa pedagang kedapatan menjual barang tidak sesuai harga standar. Komoditas terdampak itu BBM jenis bensin, solar, dan barang kebutuhan pokok lainnya,” jelas Yosep.
Ia menegaskan, DPRK Jayawijaya akan terus menjalankan fungsi pengawasan secara berkelanjutan untuk memastikan stabilitas harga tetap terjaga dan tidak membebani masyarakat.

“Kami akan terus turun ke lapangan dan memanggil mitra terkait secara berkala untuk memantau perkembangan. Jangan sampai inflasi melonjak tinggi di luar harapan kita bersama. Kami akan pastikan pengawasan ini berjalan ketat,” pungkasnya.
Langkah ini diharapkan mampu menekan potensi inflasi di wilayah Jayawijaya, sekaligus menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan kenaikan biaya transportasi khususnya tiket pesawat akibat lonjakan harga avtur.
(Tundemin Kogoya – Redaksi DA)





Apa komentar anda ?