JAYAPURA, NOKENLIVE.com – Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua menghadirkan mantan Wali Kota Jayapura dua periode, Benhur Tomi Mano, sebagai narasumber dalam talkshow pada Kongres Luar Biasa (KLB) Forum Generasi Muda (FGM) GKI, 26–27 Februari 2026 di Graha Sara, Kantor Sinode.
Talkshow ini mengangkat tema tentang kesiapan generasi muda memasuki “Peradaban II Bangsa Papua” menuju Indonesia Emas 2045, BTM menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar agenda organisasi, tetapi momentum menentukan arah masa depan Papua.
“Kita sedang berbicara tentang generasi yang akan menentukan wajah Papua 20 sampai 30 tahun ke depan,” tegasnya.
Menurut BTM, Peradaban II bukan hanya soal pembangunan fisik dan ekonomi, melainkan tentang kualitas karakter, cara berpikir, kepemimpinan, serta kemampuan menyelesaikan konflik. Jika pada satu abad pertama masyarakat Papua dibangun melalui iman dan pendidikan, maka kini generasi muda diuji untuk tampil memimpin dengan integritas. “Kalau dulu kita dibina, sekarang kita diuji. Pertanyaannya, apakah generasi muda GKI siap memimpin?” ujarnya.

Ia juga menyoroti tantangan serius dalam dinamika politik Papua, seperti polarisasi identitas, praktik politik uang, penyebaran hoaks, hingga konflik horizontal pasca pemilu. BTM mengingatkan bahwa politik uang dan provokasi berbasis sentimen hanya akan merusak masa depan demokrasi dan memecah persaudaraan, termasuk di lingkungan gereja. “Kalau suara dihargai dengan uang, maka yang dipertaruhkan adalah masa depan Papua,” katanya.
Untuk itu, BTM menekankan tiga nilai utama yang harus dipegang generasi muda GKI: integritas, keberanian moral, dan semangat persatuan. Ia menegaskan gereja tidak boleh menjadi ruang perpanjangan konflik politik, melainkan harus menjadi wadah rekonsiliasi dan pembinaan karakter.
Di tengah arus globalisasi, perkembangan kecerdasan buatan (AI), dan perang informasi digital, BTM menilai literasi digital penting. Namun ia menegaskan, teknologi bukan penentu utama. “Teknologi tidak punya moral, manusia yang punya. Yang menentukan masa depan Papua adalah karakter,” ujarnya.
Menutup pemaparannya, BTM mendorong FGM GKI bertransformasi menjadi ruang pembinaan kepemimpinan politik yang beretika, gerakan anti politik uang, serta inkubator pemimpin menuju Papua 2045. “Peradaban II bukan tentang siapa yang berkuasa, tetapi tentang siapa yang tetap berintegritas ketika berkuasa,” pungkasnya.
( Redaksi NL )





Apa komentar anda ?