TIMIKA —NOKENLIVE.com- Pemerintah Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah menegaskan, pihak yang bertikai di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika agar segera menghentikan perang antarwarga yang berlangsung selama sepekan hingga menewaskan 11 orang.
Imbauan ini disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Puncak, Nenu Tabuni, mewakili Bupati Kabupaten Puncak, dalam pertemuan terbuka bersama masyarakat Papua, pemerintah Kabupaten Mimika, serta aparat keamanan TNI–Polri di Kwamki Narama, Selasa (6/1/2026).
Sekda mengatakan bahwa langkah penanganan konflik dilakukan secara terstruktur dan melibatkan koordinasi lintas pemerintahan hingga unsur keamanan.
“Kami tidak hanya berkoordinasi dengan dua kabupaten, Mimika dan Puncak, tetapi juga atas petunjuk Pak Gubernur, Kapolda, Dandrem, dan Pangdam,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan negosiasi secara kekeluargaan terkait pemakaman hingga proses pembakaran jenazah korban. Menurutnya, prosesi adat tersebut merupakan bagian dari syarat penyelesaian perang antar kelompok.
“Dengan selesainya pembakaran jenazah hari ini, pemerintah menyatakan perang sudah selesai dan tidak boleh terjadi lagi,” tegasnya.
Sekda juga mengingatkan masyarakat agar tidak mempermalukan diri sendiri di depan publik dengan terus mempertahankan konflik, terlebih saat masyarakat lain sedang merayakan hari besar keagamaan.
“Kita ini sedang menjalani hari-hari besar keagamaan, Natal dan Tahun Baru, tapi malah saling berperang sampai orang luar sana menertawai kita,” ujarnya di hadapan masyarakat.
Menurutnya, setelah prosesi adat tuntas dan situasi berhasil diamankan, tahapan berikutnya adalah pembicaraan lanjutan menuju rekonsiliasi dan perdamaian yang lebih formal.
Ia menegaskan bahwa pemerintah dan aparat keamanan telah sepakat untuk mengambil langkah penegakan hukum bila konflik kembali terulang.
“Hari ini adalah tanda bahwa perang berakhir. Jika setelah ini ada kejadian lagi, itu lain cerita, dan aparat keamanan akan memprosesnya secara hukum,” kata Sekda.
Sekda mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan konflik, termasuk masyarakat, pemerintah Kabupaten Mimika, serta aparat TNI–Polri yang mengamankan jalannya prosesi adat hingga tuntas dan kondusif. (Redaksi – DA)







Apa komentar anda ?