JAYAPURA — NOKENLIVE.com– Seorang ibu hamil bernama Irene Sokoy, warga RW 2 Kensio, Kampung Hobong, meninggal dunia bersama bayi dalam kandungannya setelah melalui serangkaian penolakan layanan medis di beberapa rumah sakit pada malam kejadian ada Selasa (18/11/2025). Pihak keluarga mengungkap kronologi lengkap peristiwa ini melalui keterangan Ivon Kabey, ipar almarhumah, saat diwawancara pada Jumat (21/11/2025).
Kronologi Menurut Keluarga
Menurut keluarga, proses dimulai pada pukul 15.00 WIT, ketika korban dibawa dari Kensio menuju RSUD Yowari. Sekitar pukul 16.00 WIT, perawat menyampaikan bahwa Irene telah memasuki pembukaan enam dan air ketuban sudah pecah. Proses persalinan kemudian ditunggu.
Memasuki pukul 22.00 WIT, kondisi Irene disebut semakin kesakitan dan gelisah. Keluarga menyampaikan bahwa meskipun pembukaan telah lengkap, posisi bayi tidak kunjung turun ke jalan lahir. Perawat juga memberi informasi bahwa ukuran bayi diperkirakan besar, sekitar empat kilogram, sehingga persalinan normal dinilai sulit.
Keluarga meminta rujukan segera dibuat. “Perawat bilang rujukan akan dibuat, kami diminta tunggu sampai jam 11 malam. Tapi prosesnya lama sekali, jadi kami desak dipercepat,” ujar Ivon Kabey. Menurut keluarga, rujukan baru selesai mendekati pukul 24.00 WIT.
Ambulans Terlambat, RS Pertama Menolak
Setelah rujukan selesai, keluarga bersiap ke RS Dian Harapan, namun ambulans yang hendak digunakan terkendala karena petugas tidak berada di tempat. Mobil baru siap sekitar pukul 01.22 WIT.
Setibanya di RS Dian Harapan, keluarga mengatakan bahwa pasien tidak dapat diterima. “Mereka bilang ruang penuh dan tidak ada dokter anestesi. Padahal kondisi Irene sudah sangat lemah,” ungkap keluarga.
Ditolak Lagi di RS Abepura
Keluarga kemudian menuju RS Abepura, namun kembali ditolak. Alasan yang diterima keluarga adalah bahwa ruang bersalin sedang dalam proses renovasi.
Keluarga mengaku kecewa dengan minimnya koordinasi. “Perawat yang antar tidak koordinasi dulu. Kami hanya disuruh pindah lagi dan lagi, tapi tidak ada yang mau terima,” kata Ivon.
RS Bhayangkara: Ada Ruang Khusus, Diminta Uang Muka Rp4 Juta
Dari RS Abepura, ambulans mengarah ke RS Bhayangkara. Dokter sempat memeriksa kondisi pasien, dan dua perawat memeriksa Irene di dalam ambulans. Saat itu, korban disebut sudah sangat kesakitan dan mengalami sesak napas.
Keluarga diarahkan untuk melakukan pendaftaran. Namun, menurut keluarga, mereka mendapat informasi bahwa ruang kelas umum penuh dan hanya tersedia ruang kelas khusus dengan kewajiban menyerahkan uang muka Rp4 juta.
“Kami tidak punya uang saat itu. Kami mohon supaya ditangani dulu karena kondisi Irene sudah gawat sekali, tapi tetap tidak bisa,” ujar keluarga.
Dokter kemudian menuliskan rujukan lanjutan. Saat keluarga keluar dari RS Bhayangkara untuk mencari rumah sakit berikutnya, kondisi Irene semakin memburuk. Di kawasan Entrop, ia mengalami kejang.
Karena rumah sakit tujuan berikutnya dianggap terlalu jauh, keluarga memutuskan kembali ke RS Bhayangkara.
Meninggal Dunia Saat Kembali ke RS
Irene kembali tiba di RS Bhayangkara sekitar pukul 05.00 WIT. Namun nyawanya tidak tertolong. Keluarga mengatakan bahwa saat masuk kembali ke rumah sakit, Irene sudah mengeluarkan busa dari mulut.
“Dia sudah tidak bergerak. Di situ dokter bilang Irene dan bayinya sudah meninggal,” ujar keluarga dengan suara bergetar.

Harapan Keluarga
Keluarga menyampaikan duka mendalam atas kehilangan dua nyawa sekaligus dan berharap kejadian ini menjadi perhatian serius semua pihak.
“Kami hanya berharap tidak ada lagi ibu yang harus meninggal karena bolak-balik ditolak rumah sakit. Kami benar-benar hancur melihat semua yang terjadi,” kata Ivon Kabey.
Keluarga menilai serangkaian hambatan pelayanan medis, kurangnya koordinasi antar fasilitas kesehatan, keterlambatan ambulans, hingga kendala administrasi turut memperburuk kondisi korban hingga berujung pada kematian. (Redaksi -DA)





Apa komentar anda ?