JAYAPURA,NOKENLIVE.com– Koordinator Perkumpulan Dewan Adat Suku Wilayah Tabi Provinsi Papua, Daniel Toto, angkat bicara terkait viralnya video pemusnahan mahkota burung cenderawasih yang dilakukan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua pada 20 Oktober 2025
Menurut Daniel, tindakan tersebut bukan bentuk pelecehan terhadap budaya Papua, melainkan langkah tepat untuk mencegah penyalahgunaan dan perdagangan ilegal satwa dilindungi, termasuk burung cenderawasih yang merupakan simbol kebanggaan masyarakat Papua.
“Pemilik barang bukti sendiri yang meminta agar dimusnahkan, karena khawatir jika disimpan bisa menimbulkan konsekuensi hukum. Jadi pemusnahan itu dilakukan demi keamanan dan untuk mencegah penyalahgunaan,” jelas Daniel Toto di Jayapura, Rabu (22/10/2025).
Daniel menuturkan, masyarakat perlu memahami konteks dari tindakan tersebut. Ia menegaskan bahwa BBKSDA Papua hanya melaksanakan tugas sesuai aturan perlindungan satwa liar yang diatur dalam undang-undang.
“Kita jangan langsung salah paham. Pemusnahan itu bukan penghinaan terhadap simbol adat, tetapi bagian dari upaya melindungi Cenderawasih agar tidak punah,” katanya.
Daniel juga mengingatkan bahwa Gubernur Papua almarhum Lukas Enembe pernah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 660.1/6701/Z tentang perlindungan terhadap satwa liar. Namun hingga kini, kata dia, belum ada aturan turunan berupa perdasi atau perdasus untuk memperkuat surat edaran tersebut.
“Sudah delapan tahun berlalu, tapi belum ada regulasi turunannya. Saya berharap Majelis Rakyat Papua (MRP) dan DPR Papua segera membuat peraturan daerah khusus untuk memperkuat perlindungan terhadap burung Cenderawasih dan satwa endemik Papua lainnya,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas polemik yang terjadi, sekaligus mengajak seluruh pihak untuk tidak memperkeruh situasi di media sosial.
“Saya mohon maaf bila peristiwa ini menimbulkan kesalahpahaman. Mari kita bersama-sama menjaga Cenderawasih, bukan hanya karena simbol adat, tetapi karena dia adalah bagian dari kehidupan dan jati diri orang Papua,” pungkas Daniel Toto. (Hubertus Gobai/Redaksi NL)





Apa komentar anda ?