JAYAPURA, NOKENLIVE.com- Ketua Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua Pendeta (Pdt) Andrikus Mofu menyebut, peringatan 1 abad Batu Peradaban di Bukit Aitumeri, Teluk Wondama, Papua Barat, menjadi momentum penting untuk refleksi seluruh orang Papua.
Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 25 Desember 1925 ketika seorang pendeta misi asal Belanda, Dominee Izaak Samuel Kijne, meletakkan dasar pendidikan Kristen di tanah Papua. Saat itu, Kijne menyampaikan nubuatan yang hingga kini terus diingat, yakni:
“Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua. Walaupun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat untuk memimpin bangsa ini, tetapi sekali kelak bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri.”
Menurut Andrikus, pesan tersebut bukan hanya nubuat, tetapi sudah menjadi kenyataan hari ini.
“Kata-kata Kijne itu bukan sekadar mimpi, melainkan kenyataan. Hari ini kita lihat banyak orang Papua sudah memimpin di gereja, adat, bahkan pemerintahan,” ujarnya di Kantor Sinode GKI, Jayapura, Jumat (5/9/2025).
Namun, ia mengingatkan bahwa perjalanan masih panjang.
“Kita memang sudah memimpin, tapi persoalan kita belum selesai. Papua masih dicap sebagai daerah termiskin, tertinggal dari sisi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Inilah yang harus kita refleksikan bersama,” katanya.
Andrikus menegaskan, peringatan 1 abad ini bukan hanya untuk dirayakan, melainkan harus menjadi pijakan untuk membangun peradaban baru.
“Saya katakan, jangan hanya pesta atau perayaan. Harus ada komitmen nyata, tindakan nyata, yang membawa perubahan bagi orang Papua,” tegasnya.
Sebagai rangkaian menuju peringatan puncak, GKI di Tanah Papua akan menggelar Konferensi Persiapan pada 9- 10 September 2025 di Kantor Sinode GKI Jayapura. Kegiatan ini akan menghadirkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, gereja, masyarakat adat, hingga organisasi kemasyarakatan.
“Konferensi ini penting. Kita ingin semua komponen duduk bersama, bicara bersama, dan merumuskan keputusan bersama. Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Masa depan Papua harus kita bangun secara kolektif,” jelas Andrikus.
Ia juga menekankan bahwa peringatan ini harus menjadi refleksi iman sekaligus panggilan sejarah.
“Batu Peradaban adalah tonggak iman sekaligus tonggak sejarah. Dari situlah lahir pendidikan Kristen yang membentuk orang Papua menjadi manusia baru, beradab, dan siap memimpin dirinya sendiri,” katanya.
Andrikus mengajak seluruh orang Papua untuk menyambut momentum ini dengan hati yang bersyukur, tetapi juga dengan pikiran yang terbuka terhadap perubahan.
“Satu abad berikutnya tidak boleh kita isi dengan hal-hal lama. Kita harus melahirkan peradaban baru. Kalau tidak, maka kita hanya tinggal dalam romantisme masa lalu,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, sebelumnya para pejuang pendidikan dan Injil sudah di berkati Tuhan, Kini saatnya Generasi baru melanjutkan perjuangan itu.
“Tuhan sudah memberkati orang-orang sebelum kita yang merintis pendidikan dan pelayanan. Sekarang giliran kita melanjutkan dengan kerja keras, komitmen, dan kesatuan. Saya yakin jika kita bersatu, Papua akan mengalami perubahan besar,” pungkasnya. (Hubertus Gobai/Fredik)





Apa komentar anda ?