BALIKPAPAN, Nokenlive.com – Partisipasi Dekranasda Provinsi Papua Pegunungan dalam Pameran Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) 2025 di Balikpapan menjadi momentum berharga yang tidak hanya memperkenalkan potensi lokal, tetapi juga menyuntikkan semangat baru dalam dunia kerajinan nasional.
Selama tiga hari pelaksanaan, dari 9 hingga 11 Juli 2025, stand Papua Pegunungan tampil paling ramai dan meriah dibanding daerah lain. Hal ini diungkapkan oleh Indrawati Malino, salah satu anggota PKK Provinsi Papua Pegunungan yang terlibat langsung dalam kegiatan ini.
“Saya melihat ini suatu momen yang bagus dan indah. Walau ini sesuatu yang awal dan tentu belum sempurna, tapi kami saling berkonsultasi, menyiapkan diri, dan melakukan yang terbaik. Persiapan stand dimulai dua hingga tiga hari sebelumnya, dan hamin satu kami sudah mengisi produk-produk unggulan ke dalam stand,” tutur Indrawati.

Produk-produk yang ditampilkan, mulai dari kerajinan tangan khas, noken, hingga buah merah dan kopi lokal, berhasil menarik perhatian pengunjung. Bahkan, ada pengunjung yang datang hingga tiga kali hanya untuk membeli kopi khas Papua Pegunungan.
“Itu menunjukkan bahwa kopi kita punya cita rasa khas yang mulai dikenal penikmat sejati. Begitu juga buah merah—sangat diminati. Tapi memang kami masih perlu perbaikan dari sisi kemasan dan informasi kuantitas produk agar bisa bersaing lebih kuat,” lanjutnya.
Indrawati juga menyoroti pentingnya inovasi ke depan dengan menambahkan produk-produk kecil seperti aksesoris rambut, gantungan kunci, dan tempelan kulkas yang ternyata sangat dicari di pameran berskala nasional.
Stand Paling Meriah: Musik, Tari, dan Interaksi Hangat
Keunikan stand Papua Pegunungan tidak hanya pada produknya, tetapi juga cara penyajiannya. Musik tradisional menggema, pengunjung diajak menari dan berinteraksi langsung dengan suasana khas Papua yang hangat dan terbuka.
“Kita ajak mereka bergoyang, menyanyi dan tertawa bersama. Pengunjung merasa nyaman, humble, dan ikut larut dalam suasana. Mereka bukan hanya membeli, tapi juga mengalami budaya Papua Pegunungan,” ungkapnya bangga.

Salah satu yang menjadi daya tarik kuat adalah busana noken yang bisa dikenakan langsung oleh pengunjung untuk berfoto. Namun, menurut Indrawati keterbatasan personel membuat pelayanan sempat kewalahan menghadapi tingginya antusiasme pengunjung.
“Banyak yang ingin mencoba baju noken dan foto, tapi kami kekurangan tenaga. Ke depan, kami ingin siapkan tim khusus dan sistem berbayar misalnya Rp20.000 hingga Rp50.000 untuk foto lengkap dengan busana khas sehingga bisa jadi nilai tambah promosi dan pemasukan,” jelas Indrawati.

Meski masih ada kekurangan, Indrawati menegaskan bahwa keikutsertaan ini menjadi pengalaman penting untuk membenahi banyak hal ke depan. Ia yakin, Papua Pegunungan memiliki kekuatan besar dalam memperkenalkan produk kerajinan tangan yang masih dikerjakan secara manual dan berasal langsung dari alam.
“Apa yang kami tampilkan mungkin belum maksimal, tapi ini awal yang baik. Orang-orang mulai mengenal dan menghargai nilai produk kita. Ini jadi pembelajaran dan motivasi bagi kami, agar pameran-pameran ke depan lebih siap dan berdampak besar,” tutupnya. ( Redaksi NL )





Apa komentar anda ?